Kampung KB Merespon Pandemi Covid-19

oleh :
Wiwin Winarni Pamungkas
Penggiat Kampung KB, PLKB Internasional


AMBYAR!  Adalah kata yang paling pas untuk menggambarkan perasaan hati kita akhir-akhir ini. Bila tidak ingat bahwa Allah SWT tempat kita bergantung dan meminta pertolongan, rasanya kita sangat terpuruk dan gundah tentang hari esok.  Astagfirullah al adzim! Gelombang informasi yang berderai-derai membawa aura negatif yang konon membuat imunitas tubuh menurun. Akan tetapi, saya masih sangat bersyukur bahwa hampir setiap hari hujan turun.  Anda boleh tidak sepakat dengan saya yang merasa bahwa hujan adalah bentuk pertolonganNya.  Hujan ditugasi mencuci bumi.  Dia membuat udara jadi lebih segar dan saya berdoa setiap hujan turun agar virus Covid-19 turut tersapu hujan, diserap bumi dan menghilang. Aamin.

Sejak resmi ditegaskan pemerintah tanggal 24 April 2020 bahwa mudik dan pulang kampung dilarang, masyarakat yang bekerja wilayah JABODETABEK sudah kadung pulang.  Pusat pertumbuhan dan perputaran ekonomi itu tak lagi mengaliri penghasilan bagi para pengais rezeki di sana.  Ketua Koalisi Kependudukan Provinsi Jawa Barat yang juga adalah pakar dan pengamat ekonomi, DR. Ferry Hadianto, mengatakan apabila Pandemi Covid19 tidak selesai sampai bulan Juni 2020, ekonomi hanya akan tumbuh dibawah 1%.  Pada pertemuan daring yang dilaksanakan Ikatan Penulis Keluarga Berencana (IPKB) Jawa Barat pada tanggal 27 April 2020, lebih lanjut Ferry menyampaikan dampak ikutan lainnya berupa angka pengangguran akan bergerak lebih dari 10% dan tak kurang PHK akan terjadi pada 100,000 pekerja.

Sebagai penggiat Kampung KB, yang terbiasa dengan kelompok masyarakat yang bekerja di sektor informal, saya membayangkan dahsyatnya dampak virus Covid-19 ini pada tatanan kehidupan ras manusia. Saya turut merasakan pukulan keras yang dialami saudara-saudara saya para pencari rezeki di sektor informal misalnya pedagang makanan di wilayah perkantoran di JABODETABEK, pedagang kaki lima di pasar-pasar tradional, pengecer barang kreditan keliling kampung-kampung yang padat, tukang gali musiman yang mencari pekerjaan penggali saluran kabel listrik dan air dan mungkin juga pada pekerja seks komersil.  Mereka adalah tulang punggung keluarga. Anda coba bayangkan berapa sebenarnya jumlah jiwa yang terdampak dari misalnya 100,000 PHK? Jika satu keluarga memiliki dua anak misalnya, maka akan terdapat 400,000 jiwa yang terancam keberlangsungan kehidupanya.  Belum lagi bagi anggota keluarga yang berkerja di sektor informal yang kita tidak punya berapa jumlah pastinya.  Tentu sangat banyak bukan?

Lalu apa yang bisa Kampung KB lakukan pada situasi ini? Beberapa kali saya melihat kerumunan orang di sekitar mesin ATM untuk mencairkan bantuan tunai langsung.  Tersirat wajah lega karena ada uang untuk membeli bahan makanan.  Sejumlah warga resah, karena bantuannya belum cair.  Sebagian lain bergumam di antara mereka bahwa yang menerima bantuan adalah kerabat dan orang dekat dengan pengurus RT, RW atau kelurahan setempat.  Bantuan yang datang bersifat sementara, lalu bagaimana peri kehidupan kita dua tiga bulan yang akan datang? Apakah kita hanya akan bergantung pada bantuan saja? Apakah kita benar-benar tidak punya daya lokal untuk membuat perut kita tidak lapar?  Saya melihat ini peran penting yang bisa dimainkan Kampung KB.

Pertama, pastikan kita dan semua anggota keluarga kita sehat lahir dan batin. Pastikan anda berkomunikasi baik dengan pasangan meskipun saya yakin ada banyak tantangan karena misalnya penghasilan keluarga kita pun banyak berkurang. Kedua, pastikan kita mendisiplinkan diri kita untuk memiliki waktu dan perhatian yang cukup untuk mendampingi anak kita belajar di rumah. Ketiga, jadilah contoh aktif untuk mendorong seluruh anggota keluarga tekun beribadah dan mendekatkan diri pada Sang Pencipta.

Kedua, aktifkan pengurus Kampung KB kita untuk memastikan pendataan dan data warga atau kelompok sasaran termutahirkan.  Kepala Kantor Perwakilan BKKBN Jawa Barat, pada acara yang sama menyatakan kerisauannya akan gelombang kelahiran baru setelah PSBB berakhir.  Untuk mengantisipasi hal tersebut, BKKBN berkomitmen untuk memasok alat kontrasepsi khususnya pil, suntik dan kondom yang harus segera didistrusikan sesuai permintaan. Kita sebagai penggiat Kampung KB harus memastikan bahwa semua kelahiran harus direncanakan.  Bersama bidan desa, kita harus memastikan data akseptor yang akurat dan ingatkan akseptor apabila harus mengulang atau mendapatkan layanan alat dan obat KB.  Apabila terdaat kehamilan baru, pastikan kita mengingatkan atau memfasilitasi agar ibu hamil melakukan pemeriksanaan antenatal. Tidak boleh luput, atau kita akan dibanjiri bayi lahir stunting.

Ketiga, pengurus harus memastikan memberikan layanan konseling dan pendampingan pada warga Kampung KB. Walaupun mereka mungkin tidak tertular Covid19, akan tetapi sangat mungkin penghasilannya berkurang. Yang paling mudah adalah, siapkan telinga kita dan dengarkan curhatnya. Saya merasakan betapa sulitnya memberikan dampingan ketika kita tidak leluasa melakukan tatap muka. Tapi saya sangat yakin, kader Kampung KB pantang menyerah. Kita sabisa-bisa, harus bisa, pasti bisa! Bukan begitu kawan…?  Berkoordinasilah dengan Petugas Keluarga Berencana (PKB) yang membina Kampung KB anda untuk mendapatkan informasi terbaru tentang KIE, pasokan alat dan obat kontrasepsi atau pembekalan lain yang akan memperkuat kerja kita di lapangan.

Keempat, bantulah RT dan RW di Kampung KB anda dengan memberikan masukan data yang akurat dan baik. Termasuk apabila ada bantuan pemerintah pada masa Pandemi Corona ini.  Seperti  Kita ketahui, perempuan adalah penggerak Kampung KB. Perempuan juga adalah penggerak pemberdayaan.  Kita dikenal lebih jujur dan paling tahu situasi yang ada di sekitar kita.  Ada Sembilan Pintu Bantuan Sosial Pemerintah yang harus kita kawal agar tersalurkan tepat waktu dan tepat sasaran sebagai berikut:

  1. Program Keluarga Harapan (APBN)
  2. Kartu Sembako (APBN)
  3. Kartu Prasejahtera (APBN)
  4. Kartu Prakerja (APBN)
  5. Bantuan Sosial Presiden (APBN)
  6. Bantuan Langsung Tunai Kemensos (APBN)
  7. Bantuan Tunai Langsung Dana Desa/BLT DD (APBD Prov)
  8. Bantuan Sosial dari Kabupaten/Kota Jawa Barat (APBD Kota/Kabupaten)
  9. Gerakan Nasi Bungkus Pemerintah Jawa Barat

Kader Kampung KB, tidak hanya dapat berkontribusi terhadap akurasi data, keterbukaan pengelolaan dan kelancaran distribusi Sembilan Pintu Bantuan Sosial itu, tapi juga dapat menangkap peluang dari bantuan tersebut.  Kelompok UPPKS atau Badan Usaha Milik Desa dapat mengorganisir keperluan warga misalnya sembako, token listrik, kuota internet yang akan dibeli oleh warga dari bantuan tersebut.  Kita bisa menangkap pembelian itu dengan mengadakan barang yang dibutuhkan dan dijual dengan harga yang pantas.

Kelima, kita harus memaksimalkan tanaman sayur dan obat yang kita punya rumah. Apabila ada kelompok tani wanita, pastikan kebun terurus dan menghasilkan. Apabila kondisi ini tidak berakhir sampai bulan Juni nanti, kita akan mulai kesulitan mendapatkan bahan makanan. Pastikan, kita bisa memetik dan membagikan hasil kebun kita  untuk kebutuhan warga di Kampung KB kita.  Koordinasikan dengan PKB kebutuhan bibit.  Atau kita bisa menanam bahan sayur seperti seledri, tomat, cabai, daun kemangi dan lainnya yang kita ambil dari kantung belanja kita. Hari ini kita menanam, dua tiga bulan sudah bisa kita petik.  Insya Allah! Pastikan semua pengurus dan warga Kampung KB melakukan hal yang sama.

Terakhir, saya yakin dan percaya, situasi yang kita hadapi akan memunculkan kreativitas lokal. Saya sungguh memimpikan bahwa kita memiliki media daring untuk bisa berbagi praktik baik dan inovasi yang ditemukan di Kampung KB.  Kita simpan asa ini bersama. Mari kita maksimalkan keberfungsian Kampung KB pada masa pandemi Corona ini untuk memastikan bahwa senyum masih ada di wajah kita, wajah umat manusia.