Solusi Jitu Mengatasi Kemacetan di Kota Bandung

oleh:
Dadang Suhenda, S.K.M., M.A.P
Peneliti Ahli Pertama Perwakilan BKKBN Jawa Barat


Tulisan telah di muat pada : wartakencana.com


Bandung sebagai salah satu kota besar yang ada di Indonesia merupakan Ibu kota provinsi Jawa Barat dengan jumlah penduduk sebanyak 2. 503,71 dan luas wilayah 167.31 km2. Adapun Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP) masih cukup tingi yaitu sebesar 4,54 (BPS Kota Bandung, 2019). Kota Bandung juga merupakan pusat ekonomi Jawa Barat. Kondisi ini menyebabkan Kota Bandung menjadi magnet bagi kabupaten atau kota disekitarnya. Kota Bandung juga  dikenal kaya akan pusat pendidikan seperti ITB, UNPAD dan UPI. Sehingga banyak para pelajar maupun mahasiswa yang datang ke Bandung, banyaknya para pendatang ini menyebabkan meningkatknya populasi di Kota Bandung yang berdampak pada meningkatnya tingkat kepadatan penduduk (ribu jiwa per kilo meter) yaitu sebesar 14,31/km2 dari tahun 2010 menjadi 14,96/km2 pada tahun 2018.  Meningkatnya kepadatan penduduk di Kota Bandung akan meningkatkan aktifitas masyarakat dan pada akhirnya akan mengurangi ketertiban masyarakat dalam berlalu lintas. Hal tersebut akan berdampak pada meningkatnya kemacetan di Kota Bandung. Senada dengan apa yang di sampaikan oleh Deka (2018) dan Ali & Abidin (2019) bahwa salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kemacetan adalah kepadatan penduduk.

Menurut Rahane et al. (2014) dan Jalagat et al. (2016), kemacetan dapat disebabkan faktor-faktor seperti pembangunan gedung-gedung pencakar langit, perluasan jaringan jalan dan jembatan, aturan-aturan lalu lintas, tingkah laku pengemudi serta ledakan penduduk Peningkatan pengguna jalan sangat erat kaitanya dengan ledakan penduduk, hal ini disebabkan penduduk akan selalu melakukan mobilitas setiap saat, mobilitas yang dimaksud disini lebih ditekankan pada pergerakan dalam upaya peningkatan kesejahteraan hidup.

Selain itu Kota Bandung dikenal sebagai salah satu ibukota Provinsi  di Indonesia dengan Keindahan dan keelokannya, sehingga  dijuluki seperti: Kota Kembang (Kota Bunga), Paris Van Java (Kota Parisnya di Pulau Jawa) dan Europa in de Tropen (Eropanya Daerah Tropis). Hal tersebut menjadikan Kota Bandung sebagai tujuan wisata bagi para pelancong dari luar daerah bahkan mancanegara. Namun dibalik keindahannya itu, kemacetan bertambah parah terutama pada hari-hari libur karena banyaknya pendatang yang akan berwisata. Banyaknya tempat tujuan wisata, memunculkan banyak pelaku bisnis atau bahkan masyarakat sekitar lokasi wisata termotivasi untuk menjalankan usaha, baik sebagai sebagai pebisnis besar maupun para pedagang kaki lima (PKL). Dalam perkembangannya pertumbuhan ekonomi yang dikembangkan oleh PKL di kota Bandung juga tidak sedinamis yang diharapkan. Hal tersebut dikarenakan perdagangan yang tumbuh di kota Bandung tidak terkendali dan belum dikelola dengan baik. Dampak dari pertumbuhan PKL menyebabkan produksi sampah semakin meningkat, lalu lintas semakin padat dan bahkan macet. Penduduk kota Bandung sendiri tidak merasa nyaman lagi tinggal di kotanya.

Data menunjukkan bahwa volume lalu lintas Pintu Keluar GT Pasteur 2 (menuju kota Bandung) mencapai 30 ribuan kendaraan per harinya. Sedangkan pada saat weekend atau liburan mencapai 34 ribu kendaraan (Ermiel, 2018), hal ini menyebabkan Kota Bandung mengalami kemacetan yang luar biasa. Apabila satu kendaraan membawa penumpang 4 orang, maka jumlah penduduk musiman bertambah. Disisi lain bertambahnya PKL yang menggunakan trotoar sebagai tempat berjualan, sehingga mempersempit jalan. Disamping itu lahan parkir tidak tersedia di kota Bandung, sehingga parkir menggunakan bahu jalan. Karena trotoar yang seharusnya berfungsi untuk pejalan kaki digunakan untuk berjualan, maka pejalan kaki mengambil badan jalan. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Gomal Purba (2006) disebutkan bahwa tingginya gangguan yang diakibatkan pejalan kaki memberikan kontribusi besar kepada pengurangan kapasitas sebagai penyebab hambatan lalu lintas.

Kemacetan ini merupakan persoalan yang sangat berat bagi kota Bandung. Kebijakan Walikota Bandung saat ini ingin membuat perubahan Kota Bandung baik dalam mengatasi kemacetan lalulintas maupun dalam meningkatkan pariwisatanya. Terlihat di beberapa ruas jalan ditempatkan selter untuk pengembangan transportasi dalam bentuk bus kota Pariwisata. Walikota Bandung juga menghimbau kepada pengunjung wisatawan untuk menggunakan sarana transportasi umum seperti kereta api sebagai solusinya. Namun sedikit memberikan hasil. Ada perilaku masyarakat Indonesia yang malas berjalan kaki, sekalipun dengan jarak yang relatif pendek dan tidak melelahkan. Kemalasan ini juga dipicu dengan tidak tersedianya tempat yang nyaman untuk pejalan kaki. Disisi lain untuk memperpanjang dan memperlebar jalan sulit dilakukan, karena lahan untuk pembuatan jalan sudah sangat terbatas. Banyak lahan–lahan kosong yang berubah fungsi menjadi perumahan, Apartement, hotel dan pertokoan.

Tidak hanya malas untuk berjalan kaki, ada kecenderungan perilaku masyarakat Indonesia yang lebih senang untuk menggunakan kendaraan pribadi. Sehingga volume kendaraan terus bertambah dari waktu ke waktu. Keadaan ini juga di topang dengan adanya kebijakan pemerintah yang menyediakan mobil murah untuk masyarakat. Selain itu perilaku masyarakat yang enggan menggunakan jembatan penyebrangan ikut andil dalam menyumbang tingkat kemacetan di Kota Bandung.

Sebetulnya pada setiap periode kepimimpian di Kota Bandung, telah dilakukan berbagai upaya untuk mengatasi kemacetan ini seperti penertiban PKL melalui relokasi, pemberlakuan Zona Merah perdagangan, penerapan sistem 3 in 1 untuk pengguna kendaraan roda empat yang masuk melalui jalan sekitar Pasteur, namun keadaan ini memunculkan masalah baru yaitu munculnya joki. Selain itu ada kebijakan penyediaan bus sekolah untuk siswa namun akhirnya muncul kebijakan zonasi pendidikan yang menyebabkan bus tidak terpakai. Kurangnya pengawasan dalam setiap implementasi kebijakan tersebut menyebabkan persoalan sulit untuk di atasi. Secara sistematis dan sederhana bahwa untuk memahami keterkaitan dan memberikan solusi persoalan kemacetan di Kota bandung ini dapat digambarkan pada Causal Loop Diagram (CLD) melalui pendekatan system thinking sebagai berikut:

CLD solusi kemacetan di Kota Bandung.

Dari model BSC yang dibuat di atas, diketahui bahwa persoalan penduduk merupakan sumber utama yang perlu mendapatkan perhatian dalam mengatasi berbagai permasalahan bangsa ini. Sehebat apapun pencapaian perekonomian suatu bangsa itu tidak akan ada pengaruhnya jika pembaginya (penduduknya) tidak terkendali baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya. Adanya pertambahan penduduk secara langsung dapat memicu meningkatnya kebutuhan akan penggunaan lahan tempat tinggal, sarana kesehatan, pendidikan termasuk kebutuhan terhadap alat-alat transportasi seperti mobil, motor dan lain-lain. Secara tidak langsung juga dapat menyebabkan kemacetan, terlebih apabila kapasitas jalan yang ada tidak mampu mengakomodasi peningkatan jumlah kendaraan.

Untuk mengatasi masalah kemacetan tersebut maka penulis merekomendasikan hal-hal sebagai berikut: 1) Penguatan program pengendalian penduduk di Kota Bandung; 2) Pengawasan atas setiap kebijakan yang dikeluarkan pemerintah; 3) Pemberdayaan dan relokasi PKL; 4) Evaluasi kebijakan produksi mobil murah oleh pemerintah; 5) Sosialiasi budaya jalan kaki dan bersepeda serta perbaiki aksesnya; 6) Pembenahan kualitas angkutan umum sehingga dapat mengurangi penggunaan mobil pribadi; 7) Mempercepat realisasi kebijakan untuk mengalihkan penggunaan bus sekolah untuk ASN di Kota Bandung.


DAFTAR PUSTAKA

Endang Wirjatmi Trilestari, Lukmanulhakim Almamalik, (2008). Systems Thinking. STIA LAN Bandung Press. Bandung.

Anderson, Virginia & LaurenJohnson(1997). Systems Thinking Basics: From Consepts to Causal Loops,Inovation In Management Series, Pegasus Communications, Inc. Waltham, Massachusetts

Jalagat, Revenio & Jalagat, Almalinda. (2016). Causes and Effects of Traffic Jam in Muscat City, Sultanate of Oman. International Journal of Science and Research (IJSR). 5. 785-787. 10.21275/ART20163550.

Ali, M. I., & Abidin, M. R. (2019). Pengaruh Kepadatan Penduduk Terhadap Intensitas Kemacetan Lalu Lintas Di Kecamatan Rappocini Makassar. Prosiding Seminar Nasional Lembaga Penelitian Universitas Negeri Makassar, 68–73.

BPS Kota Bandung. (2019). Kota Bandung dalam Angka (Bandung Municipality in Figures) 2019. Bandung.

Deka, W. (2018). an Analysis of Factors That Affect Cost of Congestion in The City of Bandung. Parahyangan Catholic University.

Gomal, P. (2006). Study Kemacetan Lalu Lintas Pada Jalan Ahmad Yani di Pusat Kota Medan. Universitas Medan Area.

Ermiel, Z. (2018). Selalu Ramai, Segini Jumlah Kendaraan yang Melintas di Gerbang Tol Pasteur. Retrieved from GriddOtto.com website: https://www.gridoto.com/read/221039362/selalu-ramai-segini-jumlah-kendaraan-yang-melintas-di-gerbang-tol-pasteur?page=all

Ermiel, Z. (2018). Selalu Ramai, Segini Jumlah Kendaraan yang Melintas di Gerbang Tol Pasteur. Retrieved from GriddOtto.com website: https://www.gridoto.com/read/221039362/selalu-ramai-segini-jumlah-kendaraan-yang-melintas-di-gerbang-tol-pasteur?page=all