Ini Dia Alasan Pria Vasektomi, Salah Satunya Datang dari Wakil Wali Kota Bandung

dari : wartakencana.com

Setiap orang punya alasan sendiri-sendiri untuk menjadi peserta keluarga berencana atau menggunakan alat dan obat kontrasepsi (Alokon). Pun untuk menjalani vasektomi. Dari sejumlah alasan, kesehatan dan pendidikan anak menjadi yang paling lumrah. Dua alasan itulah yang muncul dari sejumlah peserta KB pria yang ditemui di sela pelayanan vasektomi di Rumah Sakit Kebonjati, Kota Bandung, awal pekan ini.

Pertimbangan kesehatan atau lebih tepatnya ketidakcocokan sang istri pada alokon salah satunya datang dari Hendra Purnama. Penulis skenario sejumlah tayangan televisi ini mengaku sudah memilih menjadi peserta KB pria cukup lama. Bedanya, dulu dia menggunakan kondom. Dan, baru pada 9 November 2020 dia memutuskan menjalani vasektomi atau metode operasi pria (MOP).

“Sejak awal menikah, istri saya sudah mencoba KB suntik dan pil, tapi keduanya tidak cocok. Karena itu, saya ‘mengambil alih’ urusan KB ini. Biar badan istri bebas dari obat-obatan dan dipasangi alat kontrasepsi,” terang Hendra saat ditemui tidak lama setelah operasi.

“Kami lalu jadi pengguna kondom. Namun setelah punya anak tiga, kami sepakat untuk mencukupkan saja. Jadi saya ambil vasektomi untuk KB permanen. Jadi, selain jumlah anak, saya berpendapat KB adalah tanggung jawab saya sebagai kepala keluarga,” Hendra menambahkan.

Rupanya, alasan penulis novel ­Suwung dan kumpulan prosa pendek Gelembung Terakhir Rahwana ini sama persis dengan Wakil Wali Kota Bandung Yana Mulyana. Ditemui usai memberikan sambutan pada rangkaian kegiatan peringatan Hari Vasektomi Sedunia di tempat yang sama, Yana mengaku menjalani vasektomi secara sukarela. Keputusan untuk mengakhiri siklus reproduksi datang ketika mendapati sang istri tidak cocok menggunakan alokon.

“Waktu dulu nikah, kami merencanakan untuk menunda punya anak selama satu tahun. Sesuai rencana, setahun kemudian istri hamil. Alhamdulillah kami dikaruniai dua anak, satu laki-laki dan satu perempuan. Jeda anak pertama dengan kedua 13 bulan. Setelah itu, istri langsung menjadi peserta KB. Sayangnya, istri ternyata nggak cocok dengan semua kontrasepsi. Ada yang jadi jerawatan atau apalah. Oleh karena itu, setelah anak kedua, saya melakukan operasi vasektomi. Saya melakukannya dengan sukarela,” ungkap Yana.

“Saya bersyukur sebagai bagian dari para pria sejati ini untuk berperan aktif untuk masa depan bangsa dan masa depan keluarga. Juga menjadi motivator untuk mengajak para pria lain untuk menjadi peserta program keluarga berencana. Program KB atau kini menjadi Bangga Kencana seolah-olah hanya untuk kaum perempuan. Padahal, laki-laki juga memiliki tanggung jawab yang sama untuk membangun keluarga berkualitas dengan cara turut mengendalikan kelahiran,” tambah Yana.

Wakil Wali Kota Bandung Yana Mulyana. (NAJIP HENDRA SP/WARTAKENCANA.COM)

Alasan berbeda datang dari Andrea Firdaus. Pekerja eksplorasi lepas pantai ini mengaku memutuskan menjadi peserta KB vasektomi atas pertimbangan pentingnya memberikan pendidikan terbaik bagi sang buah hati. Karena itu, anak kedua lahir, Andrea memutuskan menjalani vasektomi.

“Biaya pendidilan saat ini sangat mahal. Jangankan untuk pendidikan tinggi, masuk TK saja sudah sangat mahal. Untuk memasukkan anak saya yang kecil ke TK, biaya masuk saja Rp 22 juta. Itu masuknya. Belum biaya bulanannya. Bayangkan jika kita punya banyak anak. Biaya pendidikan yang dibutuhkan sudah pasti lebih besar lagi. Karena itu, kami berpikir lebih baik memiliki sedikit anak tapi hak-hak pendidikan anak terpenuhi,” ujar Andrea.

Andrea yang hadir ke RS Kebonjati atas undangan Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kota Bandung ini untuk menerima penghargaan sebagai motivator KB Pria mengaku sudah menjalani vasektomi sejak 2018 lalu. Boleh dibilang, keputusan menjadi peserta KB “tidak sengaja”. Ceritanya, setelah anak kedua lahir, Andrea mengantar sang istri ke klinik untuk konsultasi KB. Dari situlah awal ketertarikan Andrea untuk menjalani vasektomi.

“Saat mengantar istri ke salah satu klinik di Jalan Ramdan, saya ikut menyimak penjelasan bidan terkait pilihan kontrasepsi. Ternyata ada juga kontrasepsi untuk laki-laki. Kenapa enggak saya ikut juga. Waktu itu saya mikir istri sudah berkorban dua kali melahirkan, sekarang giliran saya untuk berpartisipasi. Biar adil lah,” ungkap Andrea.

Pertimbangan pendidikan juga diungkapkan Dadang Ramdan. Petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Bandung ini mengaku sepakat dengan sang istri untuk mengakhiri masa reproduksi setelah memiliki tiga anak. Tahap berikutnya adalah membesarkan anak secara optimal.

“Saya mendapatkan informasi vasektomi ini dari Kecamatan. Kebetulan saya bertugas di Kecamatan Bojongloa Kaler. Istri juga mendukung. Akhirnya, hari ini saya menjalani vasektomi. Kami berpikir usia istri juga sudah 38 tahun. Mending fokus membesarkan anak. Apalagi biaya pendidikan kan mahal. Sementara situasi ekonomi sedang begini. Jangan sampai nanti hak-hak anak untuk mendapatkan pendidikan menjadi terabaikan akibat banyaknya anak yang harus dibiayai,” jelas Dadang.(NJP)