Meutia Hatta : Penanggulangan Stunting Pendekatan Multidisiplin Sangat Dibutuhkan

dari : Jurnalsoreang.pikiran-rakyat.com

Dalam rangka memperingati Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-28 Tahun 2021, BKKBN menyelenggarakan Webinar Series Harganas 21, 100 Profesor Bicara Stunting secara virtual

‘Keluarga Keren Cegah Stunting’ adalah tema yang diangkat. Penanggulangan stunting tidak bisa mengandalkan satu pihak atau pada satu disiplin ilmu.Bisa dipahami mengingat tingginya prevalensi dan kompleksnya masalah yang dihadapi.

Pendekatan multisiplin ini menjadi sangat penting jika pemerintah menginginkan penurunan secara radikal, dari 27,6 persen pada 2019 lalu menjadi hanya 14 persen pada 2024 mendatang.

Itulah salahsatu kesimpulan dari webinar series Harganas 21 yang diselenggarakan oleh Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Jawa Barat pada Senin, 5 Juli 2021.

Webinar menghadirkan tiga guru besar anggota Asosiasi Profesor Indonesia (API) dari tiga kampus utama di Jawa Barat.

Meutia Hatta Swasono guru besar Departemen Antrologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UI.dari Universitas Indonesia (UI).

Hardinsyah guru besar ilmu gizi Fakultas Ekologi Manusia dari IPB University, dan Hendriati Agustiani guru besar Fakultas Psikologi dari Universitas Padjadjaran (Unpad).

Tiga guru besar tersebut menjadi bagian dari 100 profesor yang dimintai sarannya oleh BKKBN dalam upaya percepatan penurunan stunting di Indonesia.

Webinar dipandu Ketua Koalisi Kependudukan Indonesia (KKI) Jawa Barat Ferry Hadiyanto.

Sebelum ketiga professor ini menyampaikan materinya, berturut-turut menyampaikan sambutan dalam kegiatan ini Kepala BKKBN Hasto Wardoyo, Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum, Deputi Kepala BKKBN Bidang Pelatihan dan Pengembangan Rizal Damanik, dan Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan keluarga (PKK) Jawa Barat Atalia Praratya Ridwan Kamil.

“Di sinilah kerja sama antara pihak peneliti di bidang kedokteran atau kesehatan dengan bidang antropologi dapat bekerjasama. Dalam perencanaan dan pelaksanaan program gizi untuk mencegah stunting misalnya. Ilmuwan kesehatan dapat menyampaikan komunikasi kesehatan yang mudah dipahami kader dan masyarakat melalui bekerjasama dengan ilmuwan komunikasi yang mengetahui infografis yang tepat dan efektif,” ungkap Meutia Hatta.

Ilmuwan antropologi dapat memberi masukan mengenai aspek sosial-budayanya.

Sementara, dari ilmuwan psikologi diperlukan pemahaman mengenai tipe kepribadian masyarakat yang perlu diberi program pemenuhan gizi, tambahnya.

Dari sisi disiplin ilmu gizi, Hardinsyah menekankan pentingnya pemenuhan gizi sejak awal 1000 hari pertama kelahiran.

Perbaikan gizi dimulai dari ibu hamil, ibu menyusui, pemberian air susu ibu (ASI), dan makanan pendamping ASI (MPASI) yang tepat, aman, dan bergizi.

“Gizi seimbang dengan pengayaan tertentu pada pangan sumber protein, terutama telur, ikan, dan susu dapat mencegah stunting. Perbaikan gizi bumil (ibu hamil) dapat dilakukan melalui penguatan fungsi keluarga, antara lain melalui peningkatan peran suami dan anggota keluarga untuk memberikan perhatian, doa, kasih sayang, perlindungan, dan memberikan prioritas makanan, dan minuman bagi pemenuhan gizi bumil serta mengurangi beban kerja dan meminimalkan stres bumil,” paparnya.

Dalam perspektif psikologi, Hendriati Agustiani menekankan bahwa stunting dapat disebabkan oleh berbagai macam faktor.

Salah satunya orang tua memegang peranan penting dalam membentuk perilaku makan dari anak melalui pola asuh dan gaya makan.

Di sinilah pentingnya pola asuh orang tua terhadap anaknya.

“Orang tua dapat memberi pengaruh besar pada kebiasaan makan anak-anak. Tindakan orang tua mengacu pada harapan menyiapkan anak menghadapi kehidupan. Karena itu, peran parenting dalam pencegahan stunting sangat signifikan. Ini menyangkut kesiapan calon ibu dan calon ayah dalam menghadapi kehamilan. Inilah kesiapan kesiapan fisik maupun psikologis yang harus diperhatikan,” tandas Hendriati. ***