PERTUMBUHAN PENDUDUK : SEBUAH PENJELASAN UNTUK MEMAHAMI ARTI SEBUAH PEMBANGUNAN

Oleh :
Ferry Hadiyanto
Ketua Koalisi Kependudukan Indonesia untuk Jawa Barat


Pendahuluan

Salah satu aspek pertumbuhan penduduk yang paling sulit dipahami adalah kecenderungan untuk terus menerus bertambah dengan cepat, sekalipun tingkat kelahiran telah mengalami penurunan secara drastis di berbagai belahan dunia. Pertambahan penduduk tersebut mempunyai kecenderungan inheren untuk terus melaju seolah olah laju pertumbuhan tersebut mengandung suatu daya gerak (momentum) internal yang kuat dan berubah secara terstruktur.

Dua alasan pokok yang melatarbelakangi kondisi diatas:

  1. Tingkat kelahiran itu sendiri tidak mungkin di turunkan hanya dalam waktu satu malam saja. Kekuatan kekuatan sosial, ekonomi dan institusional yang mempengaruhi tingkat fertilitas yang telah ada dan bertahan selama berabad abad tidak hilang begitu saja hanya karena himbauan dari para pemimpin nasional.
  2. Atas adanya momentum yang tersembunyi tersebut erat sekali kaitannya dengan struktur usia penduduk di negara berkembang yang tingkat kelahirannya tinggi, proporsi jumlah anak anak atau lapisan berusia muda sering kali mencapai 50 % atau separuh dari jumlah total penduduknya.

Transisi Demografi

Proses penurunan tingkat fertilitas sampai terciptanya tingkat populasi yang stabil telah diulas oleh sebuah konsep yang amat popular dalam ilmu ekonomi demografi, yakni konsep transisi demografi (demographic transition). Pada dasarnya konsep ini mencoba menerangkan mengapa hampir semua negara yang kini tergolong sebagai maju (developed countries) sama sama melewati sejarah populasi modern yang terdiri dari tiga tahapan besar.

Sebelum melangsungkan modernisasi ekonomi, banyak negara selama berabad abad mempunyai laju pertambahan penduduk yang stabil atau sangat lambat. Penyebabnya, meskipun angka kelahirannya sangat tinggi, angka kematian mereka juga sangat tinggi, bahkan hampir sama tingginya dngan angka kelahiran, dan ini dianggap sebagai tahapan yang pertama dalam transisi demografi.

Tahapan kedua terjadi setelah adanya modernisasi yang kemudian menghasilkan berbagai metode penyediaan pelayanan kesehatan masyarakat yang lebih baik, makanan yang lebih bergizi, pendapatan yang lebih tinggi,dn berbagai bentuk perbaikan hidup lainnya, sehingga secara perlahan lahan usia harapan hidup (life expentancy) penduduk di negara-negara yang kini maju, meningkat dari rata rata 40 tahun menjadi lebih dari 60 tahun. Dengan demikian angka kematian mengalami penurunan yang cukup berarti, akan tetapi penurunan angka mortalitas tersebut tidak segera di imbangi oleh turunnya tingkat fertilitas. Sebagai akibatnya maka laju pertumbuhan penduduk justru mengalami peningkatan tajam bila debandingkan dengan periode sebelumnya.

Dan Tahapan terakhir adalah kondisi dimana negara dapat mengurangi tingkat kelahiran bersamaan dengan berkurangnya tingkat kematian sehingga kelahiran dan kematian yang rendah akan memberikan arah suatu negara menuju keseimbangan penduduk dalam jangka panjang, sehingga penduduk hanya memberikan dampak yang positif bagi pembangunan.


Permintaan Akan Anak (Kelahiran) di Negara Berkembang

Tingkat permintaan terhadap anak dipengaruhi harga atau biaya oportunitas kepemilikan anak pada suatu tingkat pedapatan keluarga. Anak bagi masyarakat miskin dipandang sebagai aset ekonomi yang nantinya di harapkan akan mendatangkan suatu hasil baik dalam bentuk tambahan tenaga kerja maupun sebagai sumber penghasil pendapatan keluarga di masa orang tua lanjut usia.

Kuznets mencatat;
“Penduduk di negara berkembang mudah sekali untuk beranak pinak karena kondisi kondisi sosial dan ekonomi yang ada di sekitar mereka membuat sebagian besar dari mereka memandang setiap tambahan tenaga kerja bagi keluarga sebagai suatu perjudian genetik, maupun sebagai jaminan sosial ekonomi di hari tua, guna bertahan hidup di tengah tengah masyarakat yang minim perlindungan sosial dan cenderung di atur oleh hanya oleh mereka yang kuat dan kaya”

Dampak kemajuan ekonomi dan sosial dalam menurunkan fertilitas di negara berkembang akan maksimal jika sebagian penduduk, terutama golongan penduduk yang paling miskin turut serta menikmati hasil hasil kemajuan tersebut. Secara lebih spesifik, tingkat kelahiran di kalangan penduduk yang sangat miskin apabila:

  1. Taraf pendidikan kaum wanita meningkat sehingga peranan dan status merekapun menjadi lebih baik.
  2. Kesempatan kerja untuk kaum wanita di sektor sektor non pertanian meningkat sehingga biaya opportunitas atas waktu yang biasanya hanya mereka habiskan guna melakukan berbagai macam fungsi tradisional menjadi lebih tinggi
  3. Penghasilan keluarga meningkat berkat adanya kenaikan upah dan kesempatan kerja suami dan istri atau sebagai akibat redistribusi pendapatan dan kekayaan dari golongan mampu ke golongan yang kurang mampu
  4. Tingkat mortalitas menurun berkat peningkatan penyediaan berbagai macam pelayanan kesehatan masyarakat serta semakin baiknya gizi makanan keluarga baik untuk orang tua maupun anak anak
  5. Sistem jaminan dan tunjangan hari tua di luar kerangka keluarga telah tercipta dan semakin berkembangs ehingga para orang tua tidak perlu lagi menggantungkan harapan maupun nasibnya di kemudian hari kepundak keturunannya

Sementara itu masalah lain di balik sebuah realitas akan meningkatnya permintaan akan anak adalah:

  1. Keterbelakangan wanita
  2. Penyusutan sumber daya alam dan kerusakan lingkungan
  3. Penyebaran penduduk yang timpang
  4. Rendahnya posisi dan status kaum wanita

Sedangkan konsekuensi negatif dari permintaan anak yang tinggi pada akhirnya dapat berakibat kepada:

  1. Konsumsi perkapita yang rendah
  2. Kemiskinan dan ketimpangan pendapatan
  3. Pendidikan yang rendah
  4. Kesehatan yang menurun
  5. Ketersediaan bahan pangan yang semakin sulit
  6. Lingkungan hidup yang memburuk
  7. Migrasi domestik dan internasional

Penutup

Pertumbuhan penduduk dengan fertilitas yang tinggi diyakini karenanya merupakan penyebab utama rendahnya taraf hidup masyarakat, kesenjangan pendapatan, atau terbatasnya kebebasan dalam membuat pilihan yang merupakan masalah pokok negara miskin dan berkembang. Persoalan kependudukan tidak semata mata menyangkut jumlah, akan tetapi juga meliputi kualitas hidup dan kesejahteraan materiil. Fertilitas yang cepat memang mendorong timbulnya masalah keterbelakangan dan membuat prospek pembangunan menjadi semakin jauh dari kesejahteraan. Banyak masalah kependudukan yang akhirnya berdampak untuk pembangunan yang timbul karema banyaknya jumlah anggota keluarga, dan bukan didominasi atau terkonsentrasi di daerah daerah perdesaan saja, tetapi juga di perkotaan sebagai akibat dari cepatnya laju migrasi dari desa ke kota sebagai solusi dari kondisi banyaknya anak pada suatu keluarga.