Depan > Index Berita > PERMINTAAN MOP MENINGKAT, BKKBN ANTISIPASI HAL TAK DIINGINKAN
PERMINTAAN MOP MENINGKAT, BKKBN ANTISIPASI HAL TAK DIINGINKAN
Rabu, 12 April 2017
Bandung – Perwakilan BKKBN Jabar Online : Secara nasional kesertaan pria sebagai peserta KB hanya dua persen dari semua peserta KB, dimana kontribusi peserta KB MOP (Medis Operasi Pria/vasektomi) hanya 0,2 persen saja. Meski demikian, trend permintaan pelayanan MOP pada tahun ini diperkirakan akan meningkat. Di Jawa Barat saja perkiraan permintaan masyarakat (PPM) pada tahun 2017 sebesar 1.395 peserta KB baru MOP, jauh lebih banyak dari pada pencapaian tahun lalu sebanyak 876 akseptor MOP.

Meski trend peningkatan MOP ini positif bagi perkembangan program KB, Kepala Perwakilan BKKBN Jawa Barat, Sugilar mengingatkan agar pemberian pelayanan MOP harus memenuhi syarat sesuai dengan prosedur yang ditetapkan untuk mengantisipasi kasus-kasus yang tidak diinginkan, baik medis maupun non medis. Hal ini disampaikannya saat membuka Pertemuan Peningkatan Kualitas Penggerakan KB Pria di Hotel Hemangini Bandung, senin (10/4) lalu.

“Dalam memberikan KIE kepada akseptor, tolong diyakini benar bahwa yang diajak MOP adalah mereka-mereka yang sudah mantap dengan keputusannya” ujar Gilar menekankan kepada peserta pertemuan yang diikuti para Motivator KB Pria dari 27 Kabupaten/Kota se-Jawa Barat.

Gilar menerangkan bahwa MOP adalah metode kontrasepsi mantap, sehingga peserta MOP harus menyadari sepenuhnya keputusan yang diambilnya. BKKBN sendiri telah menetapkan beberapa syarat yang harus dipenuhi sebagai peserta MOP, antara lain bahwa calon peserta memang sudah tidak ingin punya anak lagi, mendapat persetujuan keluarga/istri, secara sukarela tanpa ada paksaan, dan telah mendapat konseling, serta menandatangani informed consent.

Untuk itu para motivator dan petugas terkait harus mengidentifikasi calon akseptornya, apakah sudah memenuhi kriteria yang disyarakat seperti jumlah dan usia anak apakah sudah ideal, kondisi kesehatan fisik dan jamani, termasuk pihak istri yang harus dipastikan masih berusia subur.

Sebaliknya dari perspektif petugas di lapangan, Sugilar juga mengingatkan agar KIE yang disampaikan harus benar-benar terbuka. “Akseptor harus mendapatkan informasi yang tidak menyesatkan” tandasnya mengingatkan.

“Biasanya calon akseptor banyak yang bertanya tentang kemungkinan disambung kembali/rekanalisasi” lanjut Gilar.

Menanggapi kemungkinan direkanalisasi, Sugilar mengatakan bahwa perkembangan ilmu kedokteran memang memungkinkan untuk dilakukannya rekanalisasi, namun BKKBN maupun BPJS tidak memprogramkannya, sehingga bila ada akseptor yang ingin melakukan rekanalisasi biayanya sepenuhnya ditanggung sendiri. Selain itu pekerjaan rekanalisasi tidak semudah sebagaimana metode kontrasepsi IUD atau implan yang sewaktu-waktu bisa dilepas kembali.

Terkait dengan rekanalisasi pada metode MOP, spesialis urologi dari RS Hasan Sadikin Bandung, dr. Ricky Adriansjah, Spu saat ditemui di tempat yang sama mengatakan bahwa teknologi kedokteran saat ini memungkinkan untuk penyambungan kembali (rekanalisasi) vas deferens. Hanya saja biayanya cukup mahal, karena vas deferens sangat kecil (sebesar karet gelang), sehingga harus menggunakan teknik micro surgery.

Karenanya Ricky menyarankan bila ada peserta MOP yang kemudian berkeinginan untuk punya anak lagi, sebaiknya memilih metode bayi tabung saja. “Selain tingkat keberhasilannya lebih besar, biayanya juga relatif sama” sarannya. (HK)

aSD.jpg