Depan > Index Berita > BKKBN : PROGRAM GENRE UNTUK RAIH BONUS DEMOGRAFI
BKKBN : PROGRAM GENRE UNTUK RAIH BONUS DEMOGRAFI
Selasa, 25 April 2017
Bandung – Perwakilan BKKBN Jabar Online : Anak-anak dan remaja yang jumlahnya besar saat ini akan masuk menjadi kelompok usia produktif. Pada tahun 2031, jumlah penduduk usia produktif di Indonesia akan mencapai 68 persen dari seluruh jumlah penduduk. Dengan surplus penduduk usia produktif ini maka Indonesia disebut akan mendapatkan bonus demografi.

 

Namun bonus demografi tidak serta-merta menjadi sebuah keuntungan. Kepala Bidang Keluarga Sejahtera dan Pembangunan Keluarga Perwakilan BKKBN Jawa Barat, Pintauli Siregar menyebut bonus demografi bisa saja berbalik menjadi ancaman jika penduduk usia produktif banyak yang menganggur dan sakit-sakitan.

“Jadi, bila ingin meraih bonus demografi, maka kualitas pendidikan dan kesehatan harus dipenuhi” ujar Pinta saat hadir membuka kegiatan Sosialisasi yang diikuti para Pendidik Sebaya dan Konselor Sebaya yang terdiri dari para pelajar, mahasiwa dan pramuka se-Jawa Barat di Prime Park Hotel Bandung, sabtu (22/4) lalu.

Pinta menuturkan peluang meraih bonus demografi masih dihadapkan pada banyak tantangan yang mengancam kualitas pendidikan dan kesehatan penduduk Indonesia, terutama pada kelompok usia anak dan remaja. Salah satu yang mengkhawatirkan diantaranya adalah masih tingginya angka kelahiran pada kelompok umur remaja 15-19 tahun (ASFR), yakni 48 kelahiran per 1000 perempuan.

Tingginya fertilitas pada kelompok umur muda ini menandakan masih banyaknya pernikahan pada usia dini. Sementara pernikahan dini disebut sebagai ancaman bagi peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan, terutama bagi kaum perempuan, karena menyumbang angka putus sekolah yang cukup tinggi, dan penyebab resiko kematian ibu dan bayi saat kehamilan dan persalinan.

Di Jawa Barat sendiri, rata-rata usia kawin pertama (UKP) penduduk masih diangka 19,9 tahun, dibawah rata-rata nasional 20,5 tahun (SDKI 2015). Angka ini jauh dibawah target pemerintah yang ingin menaikan UKP menjadi 21 tahun. “Inilah mengapa program GenRe perlu dihadirkan untuk menjawab tantangan bonus demografi” ujarnya menandaskan.

Program GenRe sendiri dikembangkan dalam rangka penyiapan kehidupan berkeluarga bagi remaja, sehingga mampu melangsungkan jenjang pendidikan secara terencana, berkarir dalam pekerjaan secara terencana, dan menikah dengan penuh perencanaan sesuai siklus kesehatan reproduksi.

Program GenRe oleh BKKBN dikembangkan melalui dua pendekatan, yakni pendekatan langsung kepada remaja dan pendekatan kepada keluarga atau orang tua remaja. Pendekatan kepada remaja dan orang tua didasari oleh hasil survey SDKI tahun 2012, bahwa 71 persen remaja memilih untuk menceritakan permasalahannya kepada teman sebaya, dan 31 persen remaja memilih untuk bercerita kepada orangtua.

Karena remaja lebih menyukai untuk menceritakan permasalahannya pada teman sebaya, maka BKKBN menginisiasi pembentukan Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK –R) sebagai wadah bagi remaja untuk berbagi informasi dalam menyelesaikan masalah-masalah remaja itu sendiri. PIK-R dalam prakteknya dikelola dari, oleh dan untuk remaja guna memberikan pelayanan informasi dan konseling tentang perencanaan kehidupan berkeluarga bagi remaja serta kegiatan-kegiatan penunjang lainnya.

Karena dikelola dari, oleh dan untuk remaa maka perlu dibentuk kader-kader PIK sebagai tenaga Pendidik Sebaya (PS) dan Konselor Sebaya (KS). PS adalah remaja yang mempunyai komitmen dan motivasi yang tinggi sebagai narasumber bagi kelompok remaja sebayanya, sedangkan KS adalah Pendidik Sebaya yang punya komitmen dan motivasi yang tinggi untuk memberikan konseling bagi kelompok remaja sebayanya yang telah mengikuti pelatihan konseling. KS dapat juga menjadi sarana konseling rujukan bagi remaja seteah ditangani oleh PS. (HK)

YTGOI.jpg