Depan > Index Berita > BKKBN TARGETKAN TINGKAT MATURITAS SPIP/APIP NAIK KE LEVEL 3 DI TAHUN 2019
BKKBN TARGETKAN TINGKAT MATURITAS SPIP/APIP NAIK KE LEVEL 3 DI TAHUN 2019
Kamis, 27 April 2017
Bandung – Perwakilan BKKBN Jabar Online : Kepala BKKBN, Surya Chandra Surapati mengungkapkan keinginannya untuk memperkuat fungsi Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) di lembaga yang dipimpinnya. “Fungsi APIP harus ditingkatkan untuk mencapai tingkat maturitas sistem pengendalian intern Pemerintah (SPIP) pada Level tiga di tahun 2019” kata Surya saat membuka Rapat Konsolidasi APIP tahun 2017 di Hotel Holiday Inn Bandung, selasa (25/4).

Saat ini tingkat maturitas SPIP BKKBN masih berada pada level dua, atau level berkembang. Tingkat maturitas SPIP sendiri diatur dalam PP nomor 60 tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah. Berdasar PP tersebut kerangka maturitas SPIP terpola dalam enam tingkatan, yaitu : “Belum Ada”, “Rintisan”, “Berkembang”, “Terdefinisi”, “Terukur”, dan “Optimum”. Tingkatan tersebut setara masing-masing dengan level 0, 1, 2, 3, 4, dan 5. Setiap tingkat maturitas mempunyai karakteristik dasar yang menunjukkan peran atau kapabilitas penyelenggaraan SPIP dalam mendukung pencapaian tujuan instansi pemerintah.

Surya menerangkan, pada tingkat maturitas level dua berarti fungsi APIP BKKBN masih dalam taraf melakukan proses audit secara rutin dan berulang, mampu menjamin proses tata kelola sesuai dengan peraturan, dan mampu mendeteksi terjadinya korupsi. Namun pada level ini praktik pengendaliannya belum terdokumentasi dengan baik dan pelaksanaannya sangat tergantung pada individu dan belum melibatkan semua unit organisasi. Efektivitas pengendalian juga belum dievaluasi sehingga banyak terjadi kelemahan yang belum ditangani secara memadai.

Untuk mewujudkan harapan tersebut, Surya mengajak jajaran APIP BKKBN dapat menginternalisasikan nilai-nilai revolusi mental sebagai suatu budaya kerja yang tercerminkan melalui nilai-nilai integritas, etos kerja dan gotong royong.

Integritas menurutnya membutuhkan sikap disiplin dan mensyaratkan loyalitas kepada dasar dan aturan hukum yang jelas (rule of law). “Saya minta APIP BKKBN memiliki sikap integritas yang tinggi karena harus menjadi teladan (role model) bagi komponen lain di BKKBN” tandas Surya.

Sedangkan etos kerja merupakan nilai yang diperlukan agar pekerjaan dapat diselesaikan dengan kualitas yang baik. Terakhir Surya mengajak segenap jajaran APIP dapat membangun semangat gotong royong sebagai bagian dari budaya kerja.

“Gotong royong bukanlah nilai hidup yang saling mengandalkan, tetapi menyangkut tanggung jawab, kerelaan untuk berbagai, menyangkut spirit inisiatif, kerjasama dan persaudaraan” tandasnya lagi.

 

Paradigma Baru APIP

 

Sejak tahun 2000 BKKBN sebenarnya telah menggeser peran APIP (auditor) BKKBN menuju paradigma baru, yang ditandai dengan perubahan orientasi dan peran profesi internal auditor yang tidak hanya sebagai Pengawas (watchdog), namun juga berperan sebagai konsultan bagi manajemen yaitu : sebagai agen perubahan, pendorong peningkatan manajemen resiko, pendorong peningkatan tata kelola, pendorong peningkatan sistem pengendalian, dan berperan memberikan peringatan dini.

Sejak saat itu beberapa terobosan juga telah dilakukan, salah satunya melalui pengimplementasian Zona Integritas menuju Wilayah Bebas Korupsi (ZI-WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih Melayani (WBBM). Selanjutnya BKKBN terus melakukan penguatan SPIP melalui implementasi unit pengendali gratifikasi, penguatan peraturan terkait benturan kepentingan, penguatan pengelolaan unit pengaduan, dan pembentukan Tim Saber Pungli. (HK)

DAFASD.jpg