Depan > Index Berita > BKKBN KEMBANGKAN MODEL SEKOLAH SIAGA KEPENDUDUKAN (SSK) DI 108 SEKOLAH SE-JAWA BARAT
BKKBN KEMBANGKAN MODEL SEKOLAH SIAGA KEPENDUDUKAN (SSK) DI 108 SEKOLAH SE-JAWA BARAT
Kamis, 26 Oktober 2017
Bandung – Perwakilan BKKBN Jabar Online : Jawa Barat dengan penduduk sebesar 46,7 juta jiwa menempatkannya sebagai provinsi berpenduduk terbesar di Indonesia, atau setera dengan seperlima penduduk Indonesia. Kondisi ini tidak hanya menyangkut jumlah, tetapi terkait juga dengan masalah laju pertumbuhan yang tinggi, persebaran yang tidak merata, serta kualitas SDM yang relatif rendah. Situasi ini tentu membutuhkan respon yang cepat dan tepat dari berbagai sektor, termasuk di dalamnya sektor pendidikan.

Menyikapi hal ini, Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) Jawa Barat telah mengembangkan model pendidikan kependudukan melalui Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) yang telah dibentuk di 108 sekolah SMP dan SMA se-Jawa Barat. Demikian disampaikan Kepala Perwakilan BKKBN Jabar, Sukaryo Teguh Santoso saat membuka Workshop Pembinaan Kelompok Siaga Kependudukan di Kabupaten/Kota se-Jawa Barat melalui Sekolah Siaga Kependudukan, rabu (25/10) di Hotel Lembang Asri, Lembang.

SSK sebutnya sebagai sebuat model sekolah yang mengintegrasikan pendidikan kependudukan dan keluarga berencana ke dalam beberapa mata pelajaran, seperti biologi, geografi, bahasa hingga matematika. Pada SSK juga terdapat pojok kependudukan sebagai salah satu sumber belajar peserta didik sebagai upaya pembentukan generasi berencana.

Teguh menandaskan pentingnya masalah kependudukan dan KB dibawa ke sekolah mengingat kelompok umur sekolah, khususnya usia 10-21 tahun tergolong kelompok remaja yang komposisinya 25 persen dari struktur penduduk Jawa Barat.

“satu dari empat penduduk Jawa Barat adalah remaja, sehingga menjadi sasaran yang strategis dalam mendaratkan isu-isu kependudukan kepada siswa” kata Teguh.

SSK juga menurutnya agar peserta didik dapat memahami masalah-masalah kependudukan dan keluarga berencana sejak dini, sebagai bekal merencanakan masa depannya, termasuk dalam penyiapan kehidupan berkeluarga kelak.

“Harapannya model SSK ini berdampak pada sikap siswa memandang ilmu kependudukan, tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi dapat ia tularkan untuk orang lain” tandasnya.


Tantangan Kependudukan Jawa Barat

Isu-isu strategis pembangunan kependudukan baik dalam skala nasional maupun lokal Jawa Barat utamanya terkait dengan jumlah penduduk yang besar dan tantangan peningkatan kualitas SDM yang masih rendah. Saat ini meski struktur usia produktif di Jawa Barat tinggi, mencapai 64 persen, dimana terdapat stok tenaga kerja yang berlimpah, tetapi kualitas SDM dinilai masih sangat rendah. Rata-rata lama sekolah penduduk Jawa Barat hanya 7,8 tahun, atau tidak tamat SMP (BPS Jawa Barat 2016).

Kondisi ini tidak menjamin bonus demografi tersebut akan memberikan keuntungan secara ekonomi. Melimpahnya stok tenaga kerja produktif menurut Teguh hanya akan menguntungkan bila mereka berpendidikan baik, sehat dan tersedia lapangan kerjanya. “Bila tidak, maka akan menjadi bencana kependudukan” jelas Teguh.

Selain itu yang juga penting untuk disikapi adalah terkait dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan akibat populasi penduduk yang kian bertambah. Jumlah penduduk yang terus bertambah menimbulkan konsekuensi meningkatkan kebutuhan akan perumahan dan pembangunan infrastruktur lainnya yang akan menggerus areal-areal pertanian dan hutan sebagai sumber pangan dan konservasi lingkungan.

Untuk menjamin terkendalinya dampak kependudukan tadi, saat ini pemerintah telah menetapkan sasaran pembangunan program Kependudukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK) dengan beberapa indikator, salah satunya dengan mewujudkan penduduk tumbuh seimbang (PTS) pada tahun 2019.

PTS sendiri mensyarakatkan tercapainya angka kelahiran total (total fertility rate) sebesar 2,1 anak per wanita usia subur. Saat ini posisi TFR Jawa Barat masih diangka 2,46. TFR sendiri dipengaruhi oleh pola penggunaan kontrasepsi oleh pasangan usia subur dan pola kawin pertama pada perempuan. Semakin muda seorang perempuan menikah, maka potensi punya anak akan lebih banyak. (HK) 

IMG-20171025-WA0002[1].jpg