Depan > Index Berita > BONUS DEMOGRAFI JAWA BARAT LEBIH SINGKAT DARI NASIONAL
BONUS DEMOGRAFI JAWA BARAT LEBIH SINGKAT DARI NASIONAL
Rabu, 22 November 2017
Jatinangor – Perwakilan BKKBN Jabar Online : Bonus demografi Indonesia diperkirakan terjadi pada 2020-2035, sedangkan di Jawa Barat diproyeksi akan terjadi lebih singkat, rentang 2021-2028. Hal ini mengemuka dalam Seminar Kependudukan bertajuk “Menghadapi Bonus Demografi melalui Pendekatan Pembangunan Keluarga dan Pengendalian Penduduk” yang digelar BKKBN Jawa Barat selasa (22/11) di Hotel Puri Khatulistiwa, Jatinangor.

Periode yang singkat ini menurut Sutyastie Soemitro Remi, dari Fakultas Ekonomi Unpad, terjadi akibat dari pertumbuhan penduduk Jawa Barat yang lebih tinggi dari rata-rata nasional. Laju pertumbuhan penduduk Jawa Barat diketahui mencapai 1,9 persen per tahun, sedangkan pertumbuhan nasional hanya 1,49 persen pertahun.

Selain periode bonus demografi yang lebih singkat, Yastie sapaan akrab wanita yang berspesialisasi di bidang Ekonomi Regional dan Ekonomi SDM ini menyebut tingkat ketergantungan selama bonus demografi di Jawa Barat juga lebih tinggi dari pada nasional, dimana rasio beban tanggungan (dependency ratio) titik terendah diperkirakan sebesar 44 dari 100 penduduk.

Atas periode bonus yang lebih singkat dan tingkat ketergantungan yang tidak terlalu rendah ini, Yasti menilai perlunya kebijakan dan strategi yang perlu dieksplorasi agar bonus demografi bisa dimaksimalkan.

“Struktur umur penduduk yang akan berubah ketika bonus demografi dimulai dan berakhir juga menjadi tantangan yang perlu diperhatikan” ungkap wanita yang mendapat gelar profesornya di bidang Human Resource Economics ini.

Menurutnya kebijakan dan strategi pemerintah dibidang pendidikan, ketenagakerjaan, kependudukan, keluarga berencana dan ketahanan keluarga perlu menjalin sinkronisasi dan sinergi secara kelembagaan bersama pemangku kepentingan lainnya.

Yastie juga menyebut tenaga kerja sebagai kunci penggerak ekonomi perlu diprioritaskan guna meningkatkan produktivitasnya.

Terkait dengan produktivitas, Sekretaris Utama BKKBN, Nofrizal yang juga salah satu narasumber dalam seminar ini mengungkapkan masih rendahnya tingkat produktivias SDM Indonesia. Berdasarkan survey IMD World Competitive Ranking tahun 2012, Indonesia hanya menempati peringkat ke-58 dari 59 negara terkemuka. (HK)

PROF YASTIE.JPG