Depan > Index Berita > REMAJA HARUS MENGERTI TENTANG STUNTING
REMAJA HARUS MENGERTI TENTANG STUNTING
Rabu, 18 April 2018

Bandung – Perwakilan BKKBN Jabar Online : Maraknya kasus stunting di Indonesia, atau gagal tumbuh pada balita akibat kekurangan gizi menjadi perhatian serius BKKBN. Isu ini masuk menjadi salah satu proyek prioritas nasional BKKBN melalui program pencegahan stunting melalui penyiapan kehidupan berkeluarga pada remaja.

Stunting sendiri akibat kekurangan gizi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal kelahiran, tetapi biasanya baru ketahuan setelah bayi berusia dua tahun. Masa ini kemudian dikenal dengan 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Terkait masalah stunting ini, Kepala Bidang Keluarga Sejahtera dan Pembangunan Keluarga Perwakilan BKKBN Jabar Pintauli Siregar saat membuka kegiatan Temu Kerja Forum Genre Jawa Barat dan penguatan kualitas pengelola Bina Keluarga Remaja (BKR), selasa (17/4) di hotel Max One Sukabumi mengatakan bahwa sosialisasi pencegahan stunting juga harus menyasar pada kelompok usia remaja yang dicakup melalui program Genre (generasi berencana).

Remaja, terutama remaja putri jelasnya adalah calon ibu yang akan hamil dan menyusui, dimana saat tersebut merupakan masa-masa krusial yang akan menentukan seorang bayi menjadi stunting atau tidak.

“Sebagai calon ibu, remaja putri harus memiliki pengetahuan sehingga pada saatnya berkeluarga  dapat merencanakan kehamilan dengan baik dan sehat, dan tercegah dari kelahiran bayi stunting,” tutur Pinta.

Pengetahuan tersebut diantaranya tentang kesadaran pentingnya 1.000 HPK, bahwa bayi sejak dalam kandungan sebenarnya sedang dalam puncak pertumbuhan potensial, terutama pertumbuhan otaknya, sehingga butuh supply gizi dari makanan yang dikonsumsi ibu. Sedangkan setelah kelahiran sampai berusia dua tahun, bayi dalam masa pertumbuhannya optimalnya, sehingga membutuhkan gizi baik, terutama melalui air susi ibu (ASI).

Jika pada periode ini kekurangan gizi, maka akan menghambat pertumbuhan fisik dan intelegensinya. Bukan hanya berpotensi tumbuh kerdil, tapi juga kecerdasan yang kurang, ditambah daya tahan fisik yang lemah dan mudah sakit-sakitan. Bila demikian, maka pada saat dewasanya tidak memiliki daya saing sehingga sulit berkompetisi.

Populasi remaja di Indonesia saat ini berjumlah 66,6 juta, dimana tantangan terbesarnya adalah masih tingginya pernikahan pada usia muda. Usia kawin pertama (UKP) perempuan Indonesia saat ini masih diusia 20,5 tahun. BKKBN sendiri bertekad mendorong pendewasaan usia perkawinan minimal menjadi 21 tahun.

Pernikahan dini kerap juga dihubungkan sebagai penyebab kelahiran bayi stunting karena organ reproduksinya yang belum matang dan belum siap menerima kehamilan. Selain itu banyak kasus anemia pada ibu hamil terutama mereka yang masih di bawah umur juga kerab dihubungkan sebagai penyebab kelahiran bayi stunting. Pada ibu hamil dengan anemia maka suplai zat besi dari ibu kepada janinnya akan berkurang, sehingga pertumbuhan janin tidak maksimal dan kemudian berakibat berat badan saat lahir rendah atau dibawah 2 kg dengan panjang badan kurang dari 47 sentimeter. (HK)

SAADR.jpg