Pentingnya Peran Keluarga Indonesia Dalam Memberantas Covid-19

oleh:
Anindita Dyah Sekarpuri
Widyaiswara Balai Diklat KKB Bogor


Pendahuluan

Virus Covid 19 adalah virus yang saat ini sedang merajalela dan menyerang infeksi saluran pernafasan manusia sehingga membuat pemerintah Indonesia membuat edaran untuk dapat melaksanakan bekerja, beribadah, beraktivitas, dan belajar dari rumah saja.  COVID-19 ini berbeda dari penyakit infeksi saluran pernapasan lain yang diakibatkan oleh virus adalah angka penularan virus SARS-CoV-2 yang tinggi. Gejala umumnya muncul 5-6 hari (dalam kisaran 2-14 hari) setelah tertular, dan dalam periode pre-simtomatis tersebut penularan terhadap orang lain dapat terjadi. Sebagian besar penderita hanya bergejala ringan ataupun hampir tak bergejala, tetapi tetap dapat menularkan kepada orang lain, walaupun dirinya mungkin tidak sadar sudah terkena COVID-19.

Angka perkiraan jumlah orang yang bisa mengalami penularan dari seseorang yang positif mengalami penyakit infeksi tertentu disebut dengan R0 (dibaca R naught), dan R0 untuk COVID-19 secara umum adalah 3 dan berada di kisaran 1,4 – 5,5. Berarti satu orang yang menderita COVID-19 rata-rata bisa menularkan kepada tiga orang lain.

Dalam ilmu kesehatan, penyakit dengan R0<1 umumnya akan berhenti dengan sendirinya, penyakit dengan R0=1 akan tetap berlangsung dalam masyarakat, tetapi tidak akan sampai menyebabkan kejadian luar biasa (KLB) atau epidemi. Penyakit dengar R0>1 (untuk COVID-19, R0=3) tanpa vaksin, tanpa kekebalan tubuh terhadapnya, dan belum pernah diderita seorangpun sebelumnya, seperti yang kini terjadi dengan COVID-19, dapat menyebabkan epidemi atau pandemi dengan peningkatan jumlah kasus secara eksponensial. Menurut literatur ilmiah, jumlah kasus COVID-19 dapat naik dua kali lipat setiap 6,4 – 7,4 hari, dan ada pula yang melaporkan penggandaan jumlah kasus dapat terjadi hanya dalam 2 hari, apabila tidak ada intervensi untuk memperlambat penularan.

Ketika intervensi yang dilakukan pihak yang berwenang tidak memadai, penaikan jumlah kasus secara eksponensial mungkin tetap tidak akan terlihat pada data jumlah pertambahan kasus  terkonfirmasi positif COVID-19 per hari. Jumlah pertambahan kasus per hari di Indonesia terlihat ‘sedikit’ bukan karena memang sedikit, tetapi karena tidak terdeteksi. Hal ini karena uji diagnosis COVID-19 di Indonesia dilakukan dengan sangat terbatas. Pasien yang terindikasi meninggal dunia karena COVID-19 pun belum tentu terdeteksi karena tidak sempat dikonfirmasi positif COVID-19 atau karena hasil tes belum keluar. Orang yang menderita gejala ringan misalnya, disarankan untuk isolasi diri di rumah dan tidak serta merta diuji apakah ia positif COVID-19 atau tidak, sehingga sangat mungkin ada banyak kasus bergejala ringan atau hampir tidak bergejala yang tidak terdeteksi di Indonesia.


Permodelan Skenario Data Kasus Covid 19

Pemodelan matematika berdasarkan data kejadian COVID-19 di Indonesia per 14 Maret 2020, yang dilakukan di Pusat Pemodelan Matematika dan Simulasi ITB, meproyeksi kasus COVID-19 akan mengalami puncak epidemi dengan jumlah kasus baru tertinggi (600 kasus baru dengan total 5000 kasus) pada akhir Maret 2020. Akhir epidemi diperkirakan terjadi pada pertengahan April 2020 dengan jumlah maksimal lebih dari 8000 kasus. Pemodelan ini telah dimutakhirkan seiring data yang ada, dan per data 23 Maret 2020 puncak epidemi diproyeksi akan terjadi pada pertengahan April dan berakhir pada akhir Mei atau awal Juni 2020.

Pemodelan matematika ini akan segera dipublikasi di Journal of Communication in Biomathematical Sciences. Selain itu, peneliti dari Centre for Mathematical Modelling of Infectious Diseases (CMMID, Pusat Pemodelan Matematika Penyakit Infeksi) di London, memperkirakan bahwa saat ini boleh jadi telah ada 70 ribu hingga 250 ribu kasus COVID-19 di Indonesia. Hal ini mengingat jumlah pelaksanaan uji COVID-19 yang sangat sedikit di Indonesia dibanding negara lain, sehingga kemungkinan besar ada banyak kasus yang tidak terdeteksi. CMMID memperkirakan, untuk setiap satu kasus kematian yang terkonfirmasi positif COVID-19, terdapat puluhan ribu kasus positif lain (termasuk yang bergejala ringan dan hampir tak bergejala) yang tidak terdeteksi. Walaupun studi permodelan tersebut belum dipublikasi di jurnal akademik resmi, proyeksi pemodelan dapat memberi gambaran mengenai apa yang mungkin terjadi dalam waktu dekat, sehingga kita dapat mengukur kesiapan kita dalam menghadapi situasi tersebut.


Pembatasan Jarak Fisik/ Physical distancing

 Virus SARS-CoV-2 menyebar melalui droplet/tetesan yang keluar dari hidung atau mulut ketika kita bersin, batuk, atau berbicara. Droplet ini dapat bergerak di udara sejauh 1-2 m dan tinggal di udara selama 3 jam. Droplet ini dapat jatuh di permukaan benda mati dan juga dapat menular melalui sentuhan. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengurangi interaksi tatap muka, menjaga jarak aman, dan menghindari tempat-tempat dimana banyak orang berkerumun atau berkumpul, karena hal ini dapat mempercepat penularan. Selain itu, virus butuh inang untuk berkembang, dan untuk virus SARS-CoV-2, sel paru-paru manusia merupakan inang utama untuk memperbanyak diri. Penularan dari satu orang ke orang lain di tempat-tempat yang ramai di mana banyak orang berkerumun atau berkumpul, atau di antara orang yang tidak menjaga jarak satu sama lain, justru memberi kesempatan bagi virus ini untuk semakin memperbanyak diri di dalam masyarakat. Apabila kita melakukan pembatasan jarak fisik /physical distancing, bukan saja kita dapat memperlambat penularan dengan cara memutus rantai penularan dan dengan demikian mengurangi risiko bagi orang-orang yang lebih berisiko di sekitar kita, tapi kita juga dapat menghambat kesempatan virus untuk memperbanyak diri.

Pembatasan jarak fisik /physical distancing dapat dilakukan dengan tinggal di rumah saja, dan apabila harus beraktifitas di luar rumah, sebaiknya tetap menjaga jarak aman dari orang lain (1-2 m), dan menghindari keramaian, yaitu tempat di mana orang banyak berkerumun atau berkumpul. Tinggal di rumah saja dan bekerja dari rumah adalah hal yang terbaik yang dapat dilakukan dalam usaha memperlambat penularan COVID-19.

Apabila mengalami gejala ringan, seperti demam, batuk kering, kelelahan, sakit tenggorokan dan lain-lain, ahli kesehatan sekarang lebih menganjurkan masyarakat untuk tetap tinggal di rumah dan mengisolasi diri secara mandiri di dalam rumah. Ketika melakukan isolasi mandiri, ada baiknya untuk mengikuti panduan WHO (yang telah diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia oleh lembaga yang berwenang) mengenai isolasi mandiri di rumah untuk menghindari penularan pada anggota rumah tangga yang lain. Hal ini amat penting, terutama apabila di antara anggota rumah tangga yang lain ada kelompok berisiko seperti lansia, penderita penyakit penyerta, dan penderita kelainan sistem imun yang bisa mengalami gejala yang parah dan bahkan dapat berakibat fatal. Bagi sebagian besar orang, gejala ringan dapat pulih kembali. Namun apabila gejala semakin parah, segera berkonsultasi dengan dokter. 


Pentingnya Keluarga Sebagai Pembangun Imunitas Populasi/Herd immunity

Apa sih, herd immunity itu? Herd immunity (imunitas populasi) adalah ketika sebagian besar anggota populasi memiliki kekebalan (imunitas) terhadap suatu penyakit infeksi, baik melalui infeksi alami maupun melalui vaksinasi, dan dengan demikian secara tidak langsung memberi perlindungan bagi orang-orang lain di dalam populasi yang tidak memiliki imunitas terhadap penyakit tersebut. Ketika seseorang memiliki imunitas, ia tidak akan terinfeksi oleh kuman penyebab penyakit infeksi, walaupun terpapar oleh kuman tersebut, dan demikian dapat memotong rantai penularan. Semakin besar proporsi individu yang memiliki imunitas terhadap suatu penyakit, semakin kecil kemungkinan seseorang yang tidak memiliki imunitas terhadap penyakit untuk tertular oleh orang-orang di sekitarnya.

Imunitas populasi terhadap suatu penyakit infeksi idealnya dapat diperoleh melalui vaksinasi oleh sebagian besar anggota populasi. Vaksinasi dilakukan dengan cara menginjeksi kuman penyakit yang telah dimatikan atau dilemahkan untuk menstimulasi terbentuknya imunitas tubuh terhadap kuman tersebut. Dengan terbentuknya imunitas tubuh terhadap kuman, orang yang telah divaksinasi tidak perlu mengalami gejala yang parah ketika diserang oleh kuman asli secara alami. Namun demikian, saat ini belum ada publikasi resmi pemerintah bahwa telah ada vaksin yang tersedia untuk membentuk kekebalan tubuh terhadap COVID-19.

Untuk COVID-19, imunitas populasi dapat diperoleh ketika 60% populasi memperoleh kekebalan terhadap SARS-CoV-2. Dan karena belum ada vaksin untuk SARS-CoV-2, maka berarti imunitas populasi hanya dapat diperoleh melalui infeksi alami. Namun demikian, membiarkan anggota populasi tertular COVID-19 secara alami agar imunitas populasi terbentuk, tanpa intervensi untuk memperlambat atau menekan penularan, juga berarti membiarkan orang-orang yang beresiko (lansia, penderita penyakit penyerta, dan penderita kelainan imunitas) tertular dan mengalami gejala yang parah dan bahkan mengalami kematian. Membiarkan anggota populasi tertular COVID-19 tanpa intervensi untuk memperlambat atau menekan penularan, sama artinya dengan membiarkan peningkatan jumlah kasus terjadi secara eksponensial sehingga jumlah orang yang tertular meningkat secara drastis dalam waktu singkat. Kenaikan jumlah kasus secara eksponensial juga berarti peningkatan jumlah penderita yang memerlukan perawatan intensif, dan dengan demikian dapat melebihi kapasitas fasilitas kesehatan, dan peningkatan angka kematian akibat COVID-19 secara drastis dalam waktu singkat. Ketika vaksin tidak tersedia, maka upaya jaga jarak dan upaya mengurangi mobilitas masyarakat lainnya yang dapat diperketat secara bertahap sesuai situasi dan kondisi, menjadi sangat krusial untuk meminimalisir jumlah korban, mengurangi beban rumah sakit dan tenaga kesehatan, memperlambat penularan, serta untuk membeli waktu hingga bentuk intervensi lain, seperti vaksin dan obat-obatan dapat tersedia.

Peningkatan jumlah kasus yang eksponensial dengan angka kematian yang tinggi, memaksa Italia untuk memberlakukan lockdown yang sangat ketat terhadap warganya. Pemerintah Inggris pun, yang sebelumnya santai menghadapi COVID-19 dan bahkan bermaksud membiarkan warganya mendapatkan herd immunity secara alami, berbalik arah 180 derajat dan sekarang memberlakukan lockdown nasional untuk menekan jumlah kasus COVID-19 yang diprediksi akan menyebabkan 260 ribu kematian apabila tidak ada intervensi. Pakistan dan India, pekan lalu pun memutuskan untuk menerapkan lockdown dan paket bantuan untuk orang tak mampu selama periode lockdown. Data dari Tiongkok menunjukkan bahwa penerapan lockdown secara ketat di Wuhan, kota di mana penyakit ini pertama muncul, berperan penting dalam menurunkan jumlah kasus dan menekan penularan dan memperpanjang waktu penggandaan jumlah kasus. Ahli-ahli kesehatan di Indonesia tentunya memiliki kepakaran yang sangat memadai untuk mengidentifikasi pendekatan yang terbaik untuk menangkal COVID-19 di Indonesia.

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang per 3 April 2020 diterapkan oleh Pemerintah Indonesia terutama di daerah zona merah (DKI Jakarta, Jawa Barat dan wilayah lainnya) tidak akan berhasil jika tidak didukung oleh unit terkecil masyarakat yaitu keluarga.  Penerapan 8 fungsi keluarga dengan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat dalam mewujudkan masyarakat Indonesia yang sehat (baik fisik maupun psikis) menjadi kunci utama dalam suksesnya pemberantasan Covid 19 ini.  Berbagai pesan edukasi yang dibuat BKKBN untuk dapat memberikan kesadaran keluarga tentunya sangat penting dalam membantu meningkatkan pengetahuan yang nantinya akan berdampak pada perubahan perilaku keluarga Indonesia agar dapat membangun imunitas populasi dengan baik.


Penutup

Keluarga Indonesia menjadi benteng pertama dalam menghadapi Covid 19 agar tidak makin tersebar luas.  Ayah dan ibu bersama dengan keluarga yang berada di dalam rumah mampu membangun suasana keluarga yang harmonis dalam penerapan 8 fungsi keluarga dan tetap peduli terhadap sesama sehingga keluarga dapat menjadi wadah pembelajaran bagi bertumbuhnya setiap individu yang ada di dalam keluarga menghadapi pandemik Covid 19 dengan ketangguhan dan resiliensi yang terbangun baik dari dalam maupun dari luar keluarga tersebut.  Orangtua yang dapat mengajak anak beribadah di rumah guna menerapkan fungsi keluarga, menanamkan saling peduli dan menyayangi serta mengutarakan kalimat penguat rasa sayang tersebut guna menerapkan fungsi sosial budaya dan cinta kasih,  saling menjaga satu sama lain dalam menerapkan fungsi perlindungan.  Orangtua juga tetap terus  memberikan edukasi reproduksi sesuai dengan kelompok umur anak dan mendampingi langsung anak-anak yang menjalani pembelajaran berbasis rumah (PBR) dengan menyediakan fasilitas yang diperlukan anak berupa internet, sarana pembelajaran dan berbagai keperluan sekolah PBR ini dalam menerapkan fungsi reproduksi dan fungsi pendidikan.  Sikap teliti, hemat, disiplin dan dapat menggunakan sumber daya yang ada di rumah dengan bijak merupakan pembelajaran dalam penerapan fungsi ekonomi dan tentunya dengan terus mengajak anak berperan serta aktif menjaga kebersihan lingkungan dan pekerjaan rumah tangga dengan kegiatan yang menyenangkan diharapkan dapat meningkatkan neuro imunitas dalam menghadapi Covid 19 ini yang terbangun di dalam keluarga berkat penerapan 8 fungsi keluarga tersebut.