Hubungan Antar Variabel-Variabel Karakteristik Keluarga Di Jawa Barat (Habis)

oleh :
Dr. Ir. Herien Puspitawati, M.Sc., M.Sc
Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia,
Institut Pertanian Bogor


Ringkasan Hasil Uji Hubungan

Garis Besar Interpretasi Tabel 2.2. dan Gambar 2.1:

Tujuan khusus ke-1  adalah untuk menganalisis hubungan antara  variabel-variabel indikator kebutuhan dasar keluarga sejahtera (Var 1 sampai Var 6) dan Indikator pengembangan keluarga sejahtera (Var 7 sampai Var  12).

Sebanyak 12.980.611 keluarga yang tersebar di 27 kabupaten dan kota di Provinsi Jawa Barat mempunyai karakteristik sebagai berikut:

  • Apabila semua anggota keluarga mampu makan minimal 2 kali sehari, maka keluarga cenderung mampu:
  • Makan daging/ikan/telur minimal seminggu sekali.
  • Membeli satu stel pakaian baru untuk seluruh anggota keluarga minimal setahun sekali.
  • Memiliki pakaian yang berbeda untuk di rumah, bekerja/sekolah dan
  • Berobat ke fasilitas kesehatan  bila sakit.
  • Memiliki tabungan dalam bentuk uang/emas/tanah/hewan minimal senilai Rp. 1.000.000.
  • Menjalankan ibadah agama sesuai ketentuan agama yang dianut .
  • Melakukan komunikasi antar anggota keluarga.
  • Ikut dalam kegiatan sosial di lingkungan rukun tetangga (RT).
  • Memiliki akses informasi dari media massa dan lainnya.
  • Memiliki anggota yang menjadi pengurus kegiatan sosial.
Sebanyak 12.980.611 keluarga yang tersebar di 27 kabupaten dan kota di Provinsi Jawa Barat mempunyai karakteristik adanya  hubungan  yang signifikan antara  variabel-variabel indikator kebutuhan dasar keluarga sejahtera dan Indikator pengembangan keluarga sejahtera.

 

Garis Besar Interpretasi Tabel 2.3. dan Gambar 2.2:

Tujuan khusus ke-2 adalah untuk  menganalisis  hubungan antara  variabel-variabel indikator kebutuhan dasar keluarga sejahtera (Var 1 sampai Var 6) dan indikator pengembangan keluarga sejahtera (Var7 sampai Var 12) dengan indikator kesertaan keluarga dalam kelompok kegiatan (Var 13 sampai Var 19).

Sebanyak 12.980.611 keluarga yang tersebar di 27 kabupaten dan kota di Provinsi Jawa Barat mempunyai karakteristik sebagai berikut:

  • Keluarga yang punya balita (0-1 tahun) apabila ikut Posyandu, maka ada kecenderungan:
  • Merupakan Pasangan Usia Subur dengan dua anak atau lebih yang menjadi peserta KB.
  • Mampu makan Minimal 2 Kali Sehari.
  • Memiliki anggota yang menjadi pengurus kegiatan sosial.
  • Kurang memiliki tabungan dalam bentuk uang/emas/tanah/hewan minimal senilai Rp. 1.000.000.
  • Keluarga yang punya balita (1-4 tahun) apabila ikut Posyandu, maka ada kecenderungan:
  • Merupakan Pasangan Usia Subur dengan dua anak atau lebih yang menjadi peserta KB.
  • Mampu makan minimal 2 kali sehari.
  • Kurang memiliki tabungan dalam bentuk uang/emas/tanah/hewan minimal senilai Rp. 1.000.000,00.
  • Keluarga yang ikut UPPKS, maka ada kecenderungan:
  • Mampu makan minimal 2 kali sehari.
  • Membeli satu stel pakaian baru untuk seluruh anggota keluarga minimal setahun sekali.
  • Memiliki pakaian yang berbeda untuk di rumah, bekerja/sekolah dan bepergian.
  • Bila sakit berobat ke fasilitas kesehatan.
  • Menjalankan ibadah agama sesuai ketentuan agama yang dianut.
  • Memiliki anggota yang menjadi pengurus kegiatan sosial.
  • Melakukan komunikasi antar anggota keluarga.
  • Keluarga memiliki akses informasi dari media massa dan lainnya.
 Sebanyak 12.980.611 keluarga yang tersebar di 27 kabupaten dan kota di Provinsi Jawa Barat mempunyai karakteristik adanya  hubungan  yang signifikan antara  variabel-variabel indikator kebutuhan dasar keluarga sejahtera dan Indikator pengembangan keluarga sejahtera dengan indikator kesertaan keluarga dalam kelompok kegiatan.

 

Garis Besar Interpretasi Tabel 2.4. dan Gambar 2.3:

Tujuan khusus ke-3 adalah untuk  menganalisis  hubungan antara  variabel-variabel indikator  rumah keluarga sehat (Var 20 sampai 27).

Sebanyak 12.980.611 keluarga yang tersebar di 27 kabupaten dan kota di Provinsi Jawa Barat mempunyai karakteristik sebagai berikut:

  • Keluarga yang mempunyai  sumber penerangan listrik  cenderung untuk:
  • Mempunyai rumah dengan jenis atap rumah genteng/sirap.
  • Memiliki rumah.
  • Mempunyai bahan bakar listrik/gas.
  • Memiliki sumber air minum ledeng/kemasan.
  • Mempunyai fasilitas BAB jamban.
  • Mempunyai luas rumah ≥ 8 meter2 .
Sebanyak 12.980.611 keluarga yang tersebar di 27 kabupaten dan kota di Provinsi Jawa Barat mempunyai karakteristik adanya  hubungan  yang signifikan antara variabel-variabel indikator  rumah keluarga sehat. 

 

Garis Besar Interpretasi Tabel 2.5. dan Gambar 2.4:

Tujuan  khusus ke-4 adalah untuk  menganalisis  hubungan antara  variabel-variabel indikator kebutuhan dasar keluarga sejahtera (Var 1 sampai Var 6) dan indikator pengembangan keluarga sejahtera (Var7 sampai Var 12) dengan indikator  rumah keluarga sehat (Var 20 sampai 27).

Sebanyak 12.980.611 keluarga yang tersebar di 27 kabupaten dan kota di Provinsi Jawa Barat mempunyai karakteristik sebagai berikut:

  • Keluarga yang mampu membeli satu stel pakaian baru untuk seluruh anggota keluarga minimal setahun sekali) cenderung untuk mempunyai bahan bakar listrik/gas.
  • Keluarga yang mampu makan minimal 2 kali sehari untuk seluruh anggota keluarga cenderung untuk mempunyai sumber penerangan listrik dan  sumber air minum ledeng/kemasan.
  • Keluarga yang mampu berobat ke fasilitas kesehatan apabila sakit untuk seluruh anggota keluarga cenderung untuk mempunyai jenis lantai ubin/keramik namun mempunyai sumber penerangan cenderung bukan listrik.
  • Keluarga yang mampu memiliki pakaian yang berbeda untuk di rumah, bekerja/sekolah dan bepergian untuk seluruh anggota keluarga cenderung untuk mempunyai sumber penerangan bukan listrik.
  • Keluarga yang mampu makan daging/ikan/telur minimal seminggu sekali untuk seluruh anggota keluarga cenderung untuk mempunyai  bahan bakar listrik/gas (bahan bakar gas dan mempunyai  fasilitas BAB jamban sendiri.
  • Pasangan Usia Subur dengan dua anak atau lebih yang menjadi peserta (KB)  cenderung untuk mempunyai  jenis lantai bukan ubin/keramik.
  • Keluarga yang memiliki tabungan dalam bentuk uang/emas/tanah/hewan minimal senilai Rp. 1.000.000 cenderung untuk mempunyai luas rumah ≥ 8 meter2.
  • Keluarga yang melakukan komunikasi antar anggota keluarga cenderung untuk mempunyai fasilitas BAB jamban sendiri.
  • Keluarga yang ikut dalam kegiatan sosial di lingkungan rukun tetangga (RT)) cenderung untuk mempunyai rumah milik sendiri,  bahan bakar bukan listrik/gas dan  sumber air minum bukan ledeng/kemasan.
  • Keluarga yang memiliki akses informasi dari media massa dan lainnya cenderung untuk mempunyai jenis lantai ubin/keramik,   bahan bakar listrik/gas, dan   fasilitas BAB jamban sendiri.
  • Keluarga yang memiliki anggota menjadi pengurus kegiatan sosial cenderung untuk mempunyai sumber penerangan listrik,  bahan bakar listrik/gas,  luas rumah ≥ 8 meter2, sumber air minum ledeng/kemasan dan  fasilitas BAB jamban sendiri namun memiliki  jenis lantai bukan ubin/keramik.
 Sebanyak 12.980.611 keluarga yang tersebar di 27 kabupaten dan kota di Provinsi Jawa Barat mempunyai karakteristik adanya  hubungan  yang signifikan antara variabel-variabel indikator kebutuhan dasar keluarga sejahtera  dan Indikator pengembangan keluarga sejahtera  dengan indikator  rumah keluarga sehat.

 


Kesimpulan

Sebanyak 12.980.611 keluarga yang tersebar di 27 kabupaten dan kota di Provinsi Jawa Barat mempunyai karakteristik adanya:

  1. Hubungan yang signifikan antara  variabel-variabel indikator kebutuhan dasar keluarga sejahtera dan Indikator pengembangan keluarga sejahtera.
  2. Hubungan yang signifikan antara  variabel-variabel indikator kebutuhan dasar keluarga sejahtera dan Indikator pengembangan keluarga sejahtera dengan indikator kesertaan keluarga dalam kelompok kegiatan.
  3. Hubungan yang signifikan antara variabel-variabel indikator  rumah keluarga sehat.
  4. Hubungan  yang signifikan antara variabel-variabel indikator kebutuhan dasar keluarga sejahtera  dan Indikator pengembangan keluarga sejahtera  dengan indikator  rumah keluarga sehat.

Saran

Saran untuk masukan kebijakan pembangunan keluarga dan meningkatkan keluarga  sejahtera adalah sebagai berikut:

  1. Penyusunan pendataan dan informasi keluarga yang komprehensif dan terintegrasi dapat dimanfaatkan oleh SKPD di tingkat Propinsi maupun Kabupaten/Kota dalam menyusun program/kegiatan dalam meningkatkan kualitas kesejahteraan keluarga.
  2. Pendataan keluarga sebaiknya diperluas dengan penghitungan Indeks Ketahanan Keluarga (KPPPA, 2013-24 pertanyaan) dan Indeks Pembangunan Keluarga yang sudah menjadi target RPJMN 2020-2024 (BKKBN, 2020-17 Pertanyaan).
  3. Sebaiknya Dinas Keluarga Berencana di tingkat Propinsi/Kabupaten/Kota melakukan koordinasi dalam pendampingan keluarga secara terpadu untuk meningkatkan 8 (delapan fungsi keluarga) agar dapat meningkatkan variabel-variabel yang tercakup dalam:
  4. Indikator kebutuhan dasar keluarga sejahtera.
  5. Indikator pengembangan keluarga sejahtera.
  6. Indikator kesertaan keluarga dalam kelompok kegiatan.
  7. Indikator  rumah keluarga sehat.

Pustaka

BKKBN Jawa Barat.  2020.    Profil Keluarga Jawa Barat  2019.


Lampiran

Lampiran 1.    Penjelasan Variabel  Indikator Pembangunan Keluarga.

Indikator kebutuhan dasar keluarga sejahtera:

Var 1.    Keluarga membeli satu stel pakaian baru untuk seluruh anggota keluarga minimal setahun sekali

(hal. 83, kolom 4/kolom 3 dipersenkan, awas urutan kab/kota harus sama).

Var 2.    Seluruh Anggota Keluarga Makan Minimal 2 Kali Sehari  (hal. 83; kolom 6/(kolom 3-8)

dipersenkan, awas urutan kab/kota harus sama).

Var 3.    Seluruh anggota keluarga Bila Sakit Berobat ke Fasilitas Kesehatan    (hal. 83; kolom 9 /kolom 3

dipersenkan, awas urutan kab/kota harus sama).

Var 4.    Seluruh anggota keluarga  Memiliki Pakaian yang Berbeda untuk di Rumah, Bekerja/Sekolah dan

Bepergian  (hal. 83; kolom 11/kolom 3 dipersenkan, awas urutan kab/kota harus sama).

Var 5.    Seluruh anggota keluarga  Makan Daging/Ikan/Telur Minimal Seminggu Sekali (hal. 83; kolom

13/kolom 3 dipersenkan, awas urutan kab/kota harus sama).

Var 6.    Seluruh Anggota Keluarga Menjalankan Ibadah Agama Sesuai Ketentuan Agama yang Dianut (hal.

83; kolom 15/kolom 3 dipersenkan, awas urutan kab/kota harus sama).

 

Indikator pengembangan keluarga sejahtera:

Var 7.   Pasangan Usia Subur dengan dua anak atau Lebih Menjadi Peserta KB

              (hal. 84; kolom 4/(kolom 3-6)  dipersenkan, awas urutan kab/kota harus sama).

Var 8.    Keluarga Memiliki Tabungan Dalam Bentuk Uang/Emas/Tanah/Hewan Minimal Senilai Rp.

1.000.000,00   (hal. 84; kolom 7/kolom 3 dipersenkan).

Var 9.   Keluarga Melakukan Komunikasi Antar Anggota Keluarga   (hal. 84; kolom 9/kolom 3 dipersenkan,

awas urutan kab/kota harus sama).

Var 10.  Keluarga Ikut dalam Kegiatan Sosial di Lingkungan Rukun Tetangga (RT)

               (hal. 84; kolom 11/kolom 3 dipersenkan, awas urutan kab/kota harus sama).

Var 11.  Keluarga Memiliki Akses Informasi dari Media Massa dan Lainnya

              (hal. 84; kolom 13/kolom 3 dipersenkan, awas urutan kab/kota harus sama).

Var 12.  Keluarga Memiliki Anggota yang Menjadi Pengurus Kegiatan Sosial

              (hal. 84; kolom 15/kolom 3 dipersenkan, awas urutan kab/kota harus sama).

 

Indikator kesertaan keluarga dalam kelompok kegiatan:

Var 13.  Keluarga punya balita (0-1 tahun) ikut Posyandu (hal. 85; kolom 3/(kolom 2-5) dipersenkan, awas

urutan kab/kota harus sama).

Var 14.  Keluarga punya balita (1-4 tahun) ikut Posyandu  (hal. 85; kolom 6/kolom 2-8 dipersenkan, awas

urutan kab/kota harus sama).

Var 15.  Keluarga punya balita (0-4 tahun) ikut BKB (hal. 85; kolom 9/kolom 2 -11 dipersenkan, awas

urutan kab/kota harus sama).

Var 16.  Keluarga punya remaja (10-24 tahun) ikut BKR (hal. 85; kolom 12/kolom 2-14  dipersenkan, awas

urutan kab/kota harus sama).

Var 17.  Keluarga ikut PIK-R ikut PIK R/M (hal. 85; kolom 15/kolom 2-17  dipersenkan, awas urutan

kab/kota harus sama).

Var 18.  Keluarga lansia atau punya lansia iku BKL (hal. 85; kolom 18/kolom 2-20 dipersenkan, awas

urutan kab/kota harus sama).

Var 19.  Keluarga ikut UPPKS  (hal. 85; kolom 21/kolom 2 dipersenkan, awas urutan kab/kota harus sama).

 

Indikator rumah keluarga sehat:

Var 20.  Keluarga berdasarkan  jenis atap rumah genteng/sirap (hal. 86; kolom 6/kolom 3 dipersenkan,

awas urutan kab/kota harus sama)

Var 21.  Keluarga berdasarkan  jenis lantai ubin/keramik  (hal. 86; kolom 12/kolom 3 dipersenkan, awas

urutan kab/kota harus sama)

Var 22.  Keluarga berdasarkan  sumber penerangan listrik  (hal. 86; kolom 16/kolom 3 dipersenkan, awas

urutan kab/kota harus sama)

Var 23.  Keluarga berdasarkan  bahan bakar listrik/gas (hal. 87; kolom 8/kolom 2 dipersenkan, awas

urutan kab/kota harus sama)

Var 24.  Keluarga berdasarkan  kepemilikan rumah milik sendiri (hal. 87; kolom 16/kolom 2 dipersenkan,

awas urutan kab/kota harus sama)

Var 25.  Keluarga berdasarkan  luas rumah ≥ 8 meter2 (hal. 87; kolom 21/kolom 2 dipersenkan, awas

urutan kab/kota harus sama)

Var 26.  Keluarga berdasarkan  sumber air minum ledeng/kemasan (hal. 87; kolom 4/kolom 2 dipersenkan,

awas urutan kab/kota harus sama)

Var 27.  Keluarga berdasarkan  fasilitas BAB jamban sendiri (hal. 87; kolom 12/kolom 2 dipersenkan, awas

urutan kab/kota harus sama)

 

Lampiran 2.  Penjelasan Variabel  Umum Keluarga.

Var A.   Persentase Tahapan Keluarga Pra-sejahtera  (hal. 48, grafik 5.1 dalam persen, awas urutan

kab/kotanya jangan salah)

Var B.    Persentase  kepala keluarga Perempuan  (hal. 18; grafik 3.3  dalam persen, awas urutan

kab/kotanya jangan salah)

Var C.    Persentase PUS berdasarkan kelompok istri < 20 tahun  (hal. 30; grafik 4.1  dalam persen, awas

urutan kab/kotanya jangan salah)

Var D.    Persentase Kepala Keluarga laki-laki umur 60 tahun ke atas  (hal. 60; kolom (14+15)/Kolom 3

dalam persen, awas urutan kab/kotanya jangan salah)

Var E.    Persentase  Kepala Keluarga perempuan umur 60 tahun ke atas  (hal. 61; kolom (14+15)/Kolom 3

dalam persen, awas urutan kab/kotanya jangan salah)

Var F.    Persentase Kepala Keluarga dengan pendidikan SLTP ke bawah  (hal. 64; kolom (14+15)/Kolom

(4+6+8+10+12)  dalam persen, awas urutan kab/kotanya jangan salah)

Var G.    Persentase Kepala Keluarga yang tidak bekerja  (hal. 68; kolom 25  dalam persen, awas urutan

kab/kotanya jangan salah)

Var H.    Persentase Kepala Keluarga yang janda/duda  (hal. 70; kolom 9  dalam persen, awas urutan

kab/kotanya jangan salah)

Var I.    Persentase jumlah jiwa dalam keluarga yang tidak memiliki JKN (hal. 71; kolom 12  dalam persen,

awas urutan kab/kotanya jangan salah)

Var J.    Total Pasangan Usia Subur (PUS)  (hal. 72; dalam jumlah pasangan, awas urutan kab/kotanya

jangan salah)

Var K.    Persentase  PUS berdasarkan usia kawin pertama istri < 21 tahun  (hal. 73; kolom 5, dalam persen,

awas urutan kab/kotanya jangan salah)

Var L.    Persentase  PUS berdasarkan usia kawin pertama suami < 25 tahun  (hal. 73; kolom 9,  dalam

persen, awas urutan kab/kotanya jangan salah)

Var M.    Persentase PUS berdasarkan anak yang pernah dilahirkan hidup > 2 anak  (hal. 74; kolom 15,

dalam persen, awas urutan kab/kotanya jangan salah)