Harmonisasi Keluarga Di Jawa Barat: Tinjauan Komunikasi Dalam Keluarga

oleh :
Rosleny Marliani, M.Si.
Prodi Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung
e-mail: roslenymarliani@uinsgd.ac.id


Komunikasi dan Harmonisasi Keluarga

Pada dasarnya komunikasi merupakan suatu pertukaran informasi antar individu atau kelompok, baik verbal ataupun non verbal. Dalam berkomunikasi terdapat berbagai macam tujuan dari pengirim informasi ke penerima, tujuan tersebut dapat berupa persamaan persepsi atau sudut pandang, menanyakan suatu ketidakjelasan, mengklarifikasi suatu permasalahan, bertukar ide atau gagasan, dan lain sebagainya. Jika kita perhatikan tujuan dari komunikasi, pada dasarnya adalah untuk memenuhi kebutuhan penyampaian informasi ataupun menerima informasi. Begitupun pada konteks keluarga, komunikasi menjadi suatu cara untuk meredam suatu kesalahpahaman, menyamakan pandangan akan suatu hal, keterbukaan, menghindari kecurigaan, mengungkapkan keganjilan, dan lainnya yang merujuk kepada tercapainya suatu keluarga yang harmonis.

Penelitian yang dilakukan oleh Novia (2013) mengemukakan bahwa komunikasi keluarga membantu harmonisasi dalam pasangan atau hubungan orangtua-anak yang berada pada kondisi jarak jauh. Intensitas komunikasi yang baik akan mengurangi kebutuhan akan afeksi serta kebutuhan akan pertukaran informasi antar keluarga. Hal tersebut dikuatkan oleh Marliani (2020) dalam disertasinya yang menemukan bahwa komunikasi keluarga menjadi media akan munculnya keluarga yang kuat atau resilien. Peran komunikasi tersebut menjadi jembatan akan komitmen suami atau istri, kebersamaan yang dijalin antar keluarga, serta kesejahteraan spiritual untuk membentuk keluarga yang kuat. Komitmen dalam keluarga akan sulit tercapai jika tidak adanya komunikasi, begitu juga suatu kebersamaan akan terasa hambar jika komunikasi dalam keluarga tidak dibangun secara hangat dan efektif.

Komunikasi keluarga merupakan suatu proses yang di dalamnya meliputi perilaku verbal (kata-kata yang disampaikan) dan non verbal (ekspresi wajah, kontak mata, gerak tubuh, bentuk tubuh, penampilan, jarak spasial) yang digunakan oleh individu untuk membuat sebuah informasi, ide, perasaan, dan pikiran yang diketahui oleh anggota keluarga lainnya (Kevin et al., 2009). Di dalam keluarga, komunikasi sangat penting terutama ketika akan membangun suatu kepercayaan antar anggota keluarga. Hal ini kemudian akan sangat menentukan bagaimana ketika keluarga dihadapkan pada suatu permasalahan. Komunikasi keluarga sangat ditentukan pada pesan atau konten yang akan disampaikan, langsung atau tidak langsung pesan itu disampaikan, dan bagaimana penampilan dan keterbukaan yang diberikan oleh seseorang yang melakukan komunikasi (Stortenbeker et al., 2018). Dua hal yang sangat menentukan apakah komunikasi berjalan dengan baik atau tidak adalah faktor ignorance dan uncertainty (Pickhardt, 2009). Ketika dua faktor ini tidak bisa dikendalikan dalam sebuah keluarga, maka kemungkinan akan menciptakan berbagai permasalahan diantaranya kesalahpahaman, keterasingan, ketidakpercayaan, kecurigaan, dan ketidakamanan (Pickhardt, 2009).


Dimensi Komunikasi Keluarga

Koerner & Fitzpatrick (2006) menjelaskan bahwa komunikasi keluarga mempunyai dua dimensi besar, yang pertama adalah conversation orientation dan kedua adalah conformity orientation.

  1. Conversation Orientation
    Dimensi ini menjelaskan komunikasi keluarga sebagai suatu kondisi dimana keluarga menciptakan iklim yang semua anggota keluarga dikuatkan untuk berpartisipasi dalam menghadapi berbagai tantangan interaksi yang mungkin saja terjadi setiap saat dalam hidup mereka. Keluarga dengan kondisi yang baik dalam dimensi ini akan merasa bebas, secara teratur dan spontan berinteraksi dengan yang lain tanpa batasan terutama di dalam menghabiskan waktu secara bersama. Dalam kondisi ini keluarga menghabiskan waktu untuk bersama dan saling berbagi aktivitas, perasaan, dan pikiran satu sama lain. Keluarga akan saling memperkuat satu sama lain dan saling berdiskusi untuk menemukan solusi dalam hidup mereka. Selain itu keluarga yang punya orientasi tinggi dalam dimensi ini akan percaya terhadap keterbukaan dan secara intensitas menghasilkan pola komunikasi yang menyenangkan dan memberikan dampak positif terhadap masing-masing pribadi di dalam keluarga.
  2. Conformity Orientation
    Konsep orientasi konformitas mengacu kepada tingkat dan situasi keluarga di dalam menghadirkan sikap, nilai, dan kepercayaan yang heterogen. Keluarga yang mempunyai level yang tinggi dalam dimensi ini akan berinteraksi yang menekankan pada kesatuan antara kepercayaan dan sikap yang sama. Interaksi ini secara spesifik fokus pada harmonisasi, menghindari konflik, dan kemandirian antara anggota keluarga. Dalam beberapa situasi konsep dimensi ini membuat anak-anak untuk patuh pada orang tua mereka dan orang dewasa lainnya. Secara tradisional, orientasi konformitas akan menghasilkan kepercayaan di dalam menyatukan kohesivitas dan hierarki.

Sedangkan yang lainnya menurut McCaffrey et al. (2012) menjelaskan bahwa komunikasi keluarga terdiri dari berbagai aspek yang mengikat satu sama lain diantaranya listening skills, self disclosure, body language, expressing, culture and gender communication, assertiveness, dan negotiation.

  1. Listening skills
    Listening skills merupakan suatu kemampuan bertahap yang harus dimiliki oleh seseorang dalam melakukan komunikasi yang terdiri dari beberapa tahapan meliputi mendengar aktif, mendengar dengan empati, mendengar dengan penuh kesadaran, dan mendengar dengan penuh keterbukaan. Kemampuan ini adalah kemampuan dasar dalam berkomunikasi dimana sebelum kita mampu menyampaikan informasi kepada seseorang tentang baik buruknya suatu hal, terlebih dahulu diri kita harus siap untuk mendengarkan hal-hal apa saja yang sekiranya bisa kita komunikasikan dengan baik. Menurut Bodie (2002), mendengar banyak dikaitkan dengan beberapa kemampuan yang secara teknis berguna dalam kehidupan individu, diantaranya adalah digunakan dalam memahami informasi materi akademik, sebagai suatu kompleks keterampilan, mendengar sebagai respons, dan mendengar sebagai sebuah relasi. Secara umum, mendengarkan telah dikenal sebagai konstruksi multidimensi yang kompleks, yang terdiri dari: (1) proses kognitif, seperti memperhatikan, memahami, menerima dan menafsirkan konten dan pesan relasional; (2) proses afektif, seperti dimotivasi untuk memperhatikan pesan-pesan itu; (3) proses perilaku, seperti merespons dengan umpan balik verbal dan nonverbal.
  2. Self disclosure
    Self disclosure yaitu munculnya kesadaran penuh tentang komunikasi yang baik sehingga memunculkan energi yang lebih interaktif. Kesadaran yang dimaksud mengarah kepada setiap informasinya yang sekiranya akan diberikan kepada sang receptor atau penerima informasi. Beberapa hal yang harus penting diperhatikan dalam komponen ini adalah terkait berapa banyak atau jumlah informasi yang akan dihasilkan, kedekatan atau intimasi antara orang yang menyampaikan dan yang menerima informasi serta seberapa lama durasi atau waktu yang dihabiskan dalam proses komunikasi itu sehingga bisa berjalan efektif.
  3. Expressing
    Aspek lainnya; expressing yaitu kemampuan dalam menyampaikan dan memberikan konten pesan yang jelas, pesan yang langsung, dan pesan yang mendukung (kesesuaian dengan apa yang diketahui, apa yang terlihat, apa yang dipikirkan, dan apa yang seharusnya dilakukan). Bagian ini tidak hanya membicarakan apa yang ditampilan secara fisik atau tampilan luar saja, melainkan juga bagaimana diantara komunikator itu menghasilkan hubungan yang lebih erat dan munculnya keterpercayaan bersama.
  4. Body language
    Body language
    berkaitan dengan kesesuaian bahasa tubuh yang diberikan. Komponen ini berkaitan dengan aktivitas yang sesuai dengan kondisi dimana komunikasi itu akan dilakukan. Pada beberapa konteks dalam keluarga, kecenderungan yang sesuai antara bahasa tubuh yang disampaikan oleh kedua belah pihak atau lebih harus bisa menyesuaikan dengan keadaan yang sebenarnya terjadi. Secara spesifik bukan berarti pemberi informasi harus selalu setuju dengan apa yang ditampilkan oleh lawan bicara, tetapi paling tidak muncul rasa empati dan ketepatan dalam merespon situasi.
  5. Culture dan gender
    Komunikasi juga mempunyai aspek culture dan gender yang sangat menentukan lancarnya komunikasi kelurga tersebut. Dalam budaya tertentu, ada beberapa etika, sopan santun dan tatakrama yang harus dijaga oleh setiap anggota keluarga di dalam menyampaikan informasi yang bersangkutan. Usia menjadi salah satu faktor yang menentukan ketika orang berkomunikasi, terutama bagaimana berkomunikasi kepada orang yang lebih tua dan orang yang lebih muda. Gender dalam hal ini ditampilkan dalam peran sebagai laki-laki atau perempuan di dalam sebuah keluarga.
  6. Assertiveness dan Negotiation
    Pada komponen ini, setiap individu dalam keluarga harus memiliki kemampuan dalam memahami kondisi (assertiveness) dan kemampuan di dalam menjalin kerjasama (negotiation). Kemampuan negosiasi ini diperlukan dalam komunikasi dalam rangka mencapai tujuan yang diinginkan. Strategi yang baik dalam proses negosiasi akan menghasilkan kepuasan terhadap tujuan yang dicapai. Selain itu kemampuan empati yang ada dalam asertif tersebut juga ditunjukkan dengan perasaan empati terhadap masalah dan kondisi yang sesungguhnya. Proses asertif memberikan respon yang tepat di setiap momen yang muncul sehingga bisa dikatakan pihak-pihak yang bersangkutan sudah memahami maksud dan tujuan dilakukannya komunikasi.

Faktor yang Berkaitan dengan Komunikasi Keluarga

Komunikasi keluarga adalah sesuatu yang sangat mutlak dan dipengaruhi oleh keberadaan faktor seperti komitmen, kebersamaan, dan kesejahteraan spiritual yang dianggap berpengaruh terhadap resiliensi keluarga. Komitmen bisa diketahui tinggi rendahnya atau besar kecilnya dari beberapa indikator yang terdapat di dalamnya, seperti kepercayaan, kejujuran, kehandalan, keteguhan, dan kebersamaan. Adapun kebersamaan (time together) diindikasikan dengan waktu yang dihabiskan bersama secara berkualitas, kesabaran untuk mendapatkan hal yang baik, menikmati momen kebersamaan, kebersamaan yang sederhana, dan berbagi waktu-waktu yang menyenangkan. Sedangkan kesejahteraan spiritual (spiritual well-being) adalah derajat ketaatan dan pemahaman nilai-nilai dan ajaran keagamaan oleh masing-masing anggota keluarga, dengan indikatornya yang mencakup harapan, keimanan, kasih sayang, nilai-nilai etis, dan keterbukaan terhadap manusia.

Berikut ini adalah hal-hal yang bisa meningkatkan komunikasi keluarga yang positif dan efektif:

  1. Mengamati perasaanmu. Orang dengan kecerdasaan emosi tinggi tahu untuk mengenali perasaan mereka sendiri.
  2. Menumbuhkan empati. Sebagai bagian dari harga diri kita, kita dapat menumbuhkan empati dengan menegaskan bahwa orang lain dapat memiliki pandangan yang berbeda.
  3. Hindari permainan menyalahkan. Ingat bahwa orang-orang dengan keyakinan yang berlawanan bebas untuk mengekspresikan pandangan.
  4. Membangun harga diri. Harga diri berkembang dengan pertama-tama mempraktikkan kebaikan dan belas kasih diri.
  5. Fokus pada hal-hal positif. Satu kali dengan anak-anak anda sangat penting untuk mengembangkan keterampilan komunikasi yang positif.

Faktor-faktor lainnya yang berperan dalam mempengaruhi adanya komunikasi di dalam keluarga adalah kekuatan personal yang dimiliki oleh setiap anggota keluarga yang meliputi kebersamaan dan komitmen yang sudah mereka miliki sejak mereka bersatu menjadi sebuah keluarga. Selain daripada itu banyak hal-hal lainnya yang ikut menentukan kesuksesan seseorang dalam melakukan komunikasi keluarga yang positif diantaranya adalah bahwa pesan yang disampaikan itu jelas dan spesifik, bersikap terbuka dan positif terhadap lawan bicara, berikan simbol atau label terhadap perasaan yang sedang terjadi, unggulkan pernyataan yang berisi pengertian, bertanggungjawab dengan apa yang disampaikan dan saling peduli.


Komunikasi Keluarga di Jawa Barat
  1.  Keluarga di Jawa Barat

Jawa Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia dengan populasi penduduk terbanyak. Populasi di Jawa Barat sekitar 49 juta jiwa atau sekitar 18% dari total penduduk Indonesia yang mencapai 267 juta jiwa. Sedangkan untuk jumlah keluarga di Jawa Barat sekitar 13 juta. Banyaknya jumlah keluarga di Jawa Barat tidak akan lepas dari kompleksnya permasalahan dalam membangun keluarga yang harmonis. Dilansir pada lokadata.id, harmonisasi keluarga yang ditinjau dari perselisihan, pertengkaran, ekonomi, perselingkuhan, kekerasan, dan lainnya di Jawa Barat sampai tahun 2016 memiliki angka yang cukup tinggi, hal tersebut dapat dilihat pada gambar berikut ini:

Gambar 6.1. Angka perceraian di Jawa Barat 2014-2016

Tingginya angka perceraian tidak lepas dari banyaknya jumlah penduduk yang diikuti oleh besarnya jumlah keluarga serta permasalahan yang mengikutinya. Angka perceraian tersebut mayoritas disebabkan oleh faktor perselisihan antar pasangan, pertengkaran, dan faktor ekonomi (beritagar.id). Jika kita perhatikan, faktor penyebab utama terjadinya perceraian tersebut sama dengan dampak dari kurangnya komunikasi keluarga. Oleh karena itu, adanya komunikasi keluarga menjadi suatu prediktor untuk menekan angka perceraian yang menjadi indikator dari kurangnya harmonisasi keluarga.

  1. Komunikasi Antar Anggota Keluarga di Jawa Barat

Kebiasaan seluruh anggota keluarga di Jawa Barat untuk berkumpul dan bersama-sama membahas persoalan yang dihadapi dalam satu minggu atau untuk berkomunikasi dan bermusyawarah antar seluruh anggota keluarga paling kurang seminggu sekali. Hampir seluruh keluarga melakukan komunikasi dengan seluruh anggota keluarga sebesar 97,02%, sedangkan keluarga yang tidak melakukan komunikasi dengan seluruh anggota keluarga sebesar 2,98%.

Tabel 6.1. Kebiasaan Berkomunikasi dengan Seluruh Anggota Keluarga di Jawa Barat Tahun 2019

 

Sumber: Hasil Pendataan dan Pemutakhiran Data s.d. Desember 2019

Pada tabel di atas, terlihat bahwa kebiasaan keluarga di Jawa Barat melakukan komunikasi dengan seluruh anggota keluarga berada di angka minimal 95% untuk tiap kota dan kabupaten. Angka tersebut mengindikasikan bahwa modal untuk membangun keluarga yang harmonis sudah dimiliki oleh keluarga di Jawa Barat. Besarnya angka perceraian disinyalir dari besarnya jumlah penduduk di Jawa Barat, sehingga jika dibuat perbandingan antara jumlah perceraian dengan jumlah keluarga di Jawa Barat menunjukan angka yang relatif kecil. Pada Tabel 1 terlihat bahwa persentase komunikasi keluarga di Jawa Barat lebih besar berada pada daerah perkotaan, yaitu di atas 97%, sedangkan daerah kabupaten diantara 95-98%. Hal tersebut dikarenakan mayoritas penduduk perkotaan dapat memanfaatkan perkembangan gadget dengan lebih baik, untuk melakukan komunikasi dengan keluarga saat berada di tempat kerja atau saat berpisah dengan keluarga. Oleh karena itu, bertolakbelakang dengan dugaan bahwa warga perkotaan lebih menghabiskan waktu dengan pekerjaan sehingga sulitnya berkumpul dengan keluarga, bukan menjadi suatu penyebab akan kurangnya komunikasi antar keluarga. Pemanfaatan media yang baik di era perkembangan teknologi saat ini membuat komunikasi menjadi sangat mudah dilakukan dimanapun dan kapanpun.