Ini 4 Strategi BKKBN Atasi Stunting di Tanah Air

dari : rri.co.id

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Republik Indonesia, siapkan sejumlah strategi untuk meningkatkan kualitas penduduk yang berhasil di tekan saat ini.

Dalam sambutannya melalui Virtual Meeting kegiatan Rakerda Program Bangga Kencana Provinsi Jawa Barat, Kepala BKKBN RI Hasto Wardoyo, mengungkapkan ada sejumlah strategi yang sudah di siapkan untuk meminimalisir angka Stunting dari hulu.

Dijelaskan orang nomor 1 di BKKBN RI, Program 3 bulan sebelum menikah, prekontrasepsi, bidan desa, hingga merubah mindset masyarakat akan terus di lakukan untuk menekan stunting di tanah air.

“Kami sudah bekerja sama dengan kementerian agama republik Indonesia dan sepakat bahwa edukasi 3 bulan sebelum menikah ini perlu di lakukan, mengingat dalam tahapan ini berbagai pembekalan tentang pernikahan, kehamilan dan keluarga akan di berikan, untuk menambah wawasan dan menyiapkan calon keluarga baru agar menjadi keluarga yang berkualitas,”ungkapnya. Rabu (24/2/2021).

“Lalu prekontrasepsi, selama ini banyak masyarakat yang salah dalam menyiapkan pernikahan, bukannya menyiapkan diri, mental, melakukan tes kesehatan, malah sibuk mengurus prewedding, padahal menikah itu bukan sekedar pestanya saja tapi kehidupan setelahnya sehingga penting di lakukan pengecekan,”imbuhnya.

Ia juga mengatakan, bidan desa menjadi andalan terdepan yang harus di aktifkan mengingat perannya sebagai pendeteksi dini sangat vital, dan nantinya mampu mensiasati Stunting sebelum fase kelahiran.

“Bidan desa pun akan di aktifkan kembali, karena dalam hitungan kami, dari 1 desa rata rata pertahunnya bidan hanya mendampini 20 orang hamil, sehingga ini akan aman untuk masyarakat dan ibu hamil akan kita dorong melakukan pemeriksaan rutin, agar jika terdeteksi ada kekurangan gizi bisa sesegera mungkin di atasi,”katanya.

Hasto juga mengajak kepada masyarakat untuk mulai merubah pola fikir mereka dalam membentuk sebuah keluarga dan pemahamannya tentang gizi seimbang, karena menurutnya mahal bukan berarti sehat tetapi sehat merupakan hal yang sangat mahal.

“Saat ini sangat di sayangkan banyak kekeliruan, sehingga masyarakat harus mulai sadar dan merubah mindsetnya, karena mahal itu belum tentu sehat, tapi sehat sangat mahal harganya dan tidak terhitung oleh apapun,”tutupnya.