Dewi Asmara Ingatkan Pentingnya Gotong-Royong Dalam Pencegahan Stunting

dari : juaranews.com

Anggota Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Dewi Asmara mengingatkan pentingnya peran aktif masyarakat dalam mempercepat penurunan stunting di daerah. Peran tersebut bisa dilakukan dengan cara-cara sederhana. Warga hanya perlu bergotong-royong membangun kepedulian melalui hal-hal kecil yang bisa dilakukan setiap hari di rumah masing-masing.

“Kita sebagai anggota masyarakat jangan menyerahkan semua urusan kepada pemerintah. Jangan bilang bukan urusan saya. Karena kalau susah, susah semua. Nah, marilah kita bergotong-royong karena Pancasila juga mengamatkan kita sebagai warga negara untuk senantiasa gotong-royong,” ungkap Dewi saat menjadi narasumber Kampanye Percepatan Penurunan Stunting di Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Cikembar, Sukabumi, Jumat 18 November 2022.

Dia mencontohkan, jika dalam sebuah lingkungan terdapat keluarga tidak mampu, maka para tetangga sudah seharusnya turut tangan untuk membantu. Sebut saja misalnya dengan mengumpulkan beras secara rutin. Tak perlu banyak, cukup hanya dengan satu atau dua genggam.

Beras tersebut dikumpulkan di tingkat rukun tetangga (RT) atau rukun warga (RW) untuk kemudian disalurkan kepada keluarga prasejahetra. “Jika sehari dua genggam misalnya, katakanlah seminggu kita ambil, jadi banyak dan tidak terasa. Sebut saja misalnya dari satu rumah dua genggam, berarti seminggu enam genggam, berarti sebulan 24 genggaman. Mungkin sekitar 200 gram. Bayangkan itu jika orang yang masih bisa berbagi mau mengumpulkan, hasilnya bisa signifikan. Jika dikoordinir bisa membantu mereka yang tidak mampu seara sosial-ekonomi,” Dewi mencontohkan.

Tak hanya beras, pola gotong-royong juga bisa dilakukan dalam jenis makanan berbeda. Sebut saja misalnya kacang hijau. Sebagai salah satu sumber makanan bergizi, kacang hijau bisa menjadi salah satu makanan tambahan untuk anak-anak di perdesaan. Lagi-lagi tak perlu banyak, melainkan cukup dengan 1 ons misalnya.

“Taruhlah lah seroang membeli 1 ons sebulan, bergantian. Bulan ini yang nomor rumahnya ganjil, bulan depan yang nomor rumahnya genap. Khusus bagi yang mampu tentu saja. Kalau itu dikumpulin, itu bisa menambah gizi anak-anak yang ada di kampung kita. Ini menjadi salah satu cara mencegah munculnya stunting baru,” ungkap Dewi.

“Jadi, jangan mikir yang penting anak sorangan beres. Anak lain mah kumaha engke. Ingat, setelah nanti besar, kita sebagai masyaakat itu akan saling membutuhkan. Bayangkan kalau semua orang pinter, maunya kerja di kantor, gak ada yang mau jadi petani, mau makan apa kita? Gak ada yang mau menjadi nelayan, gak bisa kan kita makan ikan kalengan terus tiap hari. Begitu juga pekerjaan-pekerjaan lain. Di sinilah pentingnya kita bergotong-royong. Bahkan, untuk hal-hal kecil sekalipun,” tambah Dewi.

Hal sederhana lain yang bisa dilakukan adalah dengan cara mengingatkan ibu hamil untuk senantiasa mengonsumsi makanan bergizi. Hal ini penting mengingat pada umumnya secara hormonal ibu hamil kehilangan nafsu makan. Bahkan, dalam kondisi ngidam, seorang ibu hamil hanya tertarik mengonsumsi makanan tidak bergizi. “Ibu hamil karena hormonal banyak yang tidak suka makan. Ngidam cenah. Biasanya kalau ngidam itu semua keinginannya dipenuhi. Jangan cepat-cepat dituruti kalau itu tidak sesuai kebutuhan gizi. Kadang ada yang hanya makan seblak, cilok, baso, dan lain-lain. Itu tidak cukup untuk gizi bayi. Itu yang harus kita ingatkan. Biasanya tidak punya nafsu makan apa-apa, tapi itu jangan diturutin,” tandas salah satu politikus senior Partai Golkar tersebut.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Wira Karya Indonesia (WKI) ini menegaskan bahwa masa depan Sukabumi sangat bergantung pada kondisi anak-anak saat ini. Jika anak-anak Sukabumi saat ini tumbuh-kembang ideal, gesit dan cerdas, maka bisa dipastikan kabupaten terbesar di Pulau Jawa dan Bali tersebut memiliki masa depan cerah.

Sebaliknya, jika anak-anak menderita stunting maka masa depan pun menjadi suram. “Kalau kita tidak menjaga stunting, ka payuna generasi pekerja Sukabumi kalah dari generasi yang ada di Cianjur atau Bogor atau Tasikmalaya atau daerah lain misalnya. Makanya, setiap daerah harus memiliki kepedulian bersama. Pencegahan atau penanganan stunting butuh partisipasi masyarakat secara aktif.

Jangan melulu bergantung kepada pemerintah,” tambahnya.Bagi salah satu Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI) ini, setiap warga memiliki tanggung jawab untuk memperhatikan anak-anak di sekitarnya. Anak-anak yang sepintas lalu sedikit karena di satu lingkungan kecil, jumlahnya sangat banyak jika diakkumulasi di tingkat kabupaten/kota, provinsi, atau nasional. Jika jumlah anak yang besar tersebut ternyata menderita stunting, maka yang akan rugi bukan lagi satu-dua kampung, melainkan satu negara.

“Kasihan nanti mereka. Tidak mampu bersaing dengan bangsa lain. Karena itu, inilah tanggung jawab kita saat ini. Mari memberikan perhatian kepada generasi penerus bangsa! Caranya dengan bergotong-royong melakukan aksi nyata, meskipun dengan hal-hal sederhana. Jangan hanya mengandalkan pemerintah. Ini tanggung jawab kita semua,” tandas Dewi.(*)